Wednesday, January 1, 2014

Puncak Acara



Puncak Acara

Ketika pak Hendry Sutopo mulai berbicara, aku mengagumi pola fikir dan gaya nasehat beliau sejak nyantri dulu. Ini tidak berarti guruku yang lain tidak kukagumi, tetapi aku mengagumi mereka dengan kapasitas ilmu dan caranya masing-masing dalam membimbing kami dan memberi kesan mendalam. Sehingga sering ketika dihadapkan dalam situasi sulit menjalani kehidupan ini, data tentang nasehat mereka yang relevan tersimpan di kepalaku muncul dengan sendirinya. Kuperhatikan apakah ada yang mencatat, sebagaimana kebiasaanku di setiap menghadiri meeting, atau merekam, rupanya tidak ada. 

Kuurungkan niat membawa handycam karena ketika mau berangkat kemaren kufikir ini sudah beda zamannya, teknologi ada di mana-mana, pasti ada yang membawa atau panitia mungkin sudah menyiapkan mengingat moment bersejarah ini. Tanpa kusadari dalam anggaran memang ada untuk CD/DVD. Maklum saja sudah 18 tahun kami terpisah. Dugaanku salah dan salahku sendiri kenapa tidak bertanya kepada panitia sebelum berangkat dan mengabaikan prinsip “just in case” yang selalu kuterapkan dalam bekeraj, ini pulalah penyebabnya, lagi-lagi komunikasi. 

Kulihat ke-sekeliling, hasilnya nihil, tak ada satupun yang mengabadikan secara rekam video. Mungkin ini karena magnet dari kekangenan yang luar biasa fikirku. Jadi lupa dah dokumentasinya. Maka digital cameraku yang sudah penuh dengan photo Yogya dari udara sebelum mendarat dan perjalanan bersama Nabila ke Condong Catur ku set menjadi merekam video. Alhamdulillah semua tausiah dari pak Hendry Sutopo terekam semua. Jadi tidak perlu kuceritakan lagi di sini, insyaAllah videonya akan ku share. Dan tentu karena isi pembicaraannya ada yang sangat cocok dengan situasiku, insyaAllah akan ku-share kepadanya yang di ujung Sumatra. Lagi-lagi ini salah satu hikmah silaturrahim ini hehe.

Pembicara berikutnya pak Asyhari Abta. Sayang  sekali memori digital cameraku hanya mampu merekam sepanjang 1.32 menit, memory extraku ketinggalan pulak!. Dengan sangat menyesal karena tidak membawa laptopku dari penginapan agar bisa memindahkan photo dan rekaman tersebut. Maka akupun beralih ke tab untuk mencatat. Berikut beberapa point yang sempat kutangkap dari tausiahnya:

Santri Krapyak beda dengan santri lain, santri lain biasanya selalu pengen ngimami. Sementara santri Krapyak tidak mau ngimami kenapa?. Semua hadirin terdiam, mungkin mencari jawaban yang paling tepat. Belum sempat ada yang menjawab, pak Asyahari langsung jawab sendiri. “orak ono makmume!” semua jadi terpingkal-pingkal J. Mohon maaf hanya ini yang bisa kucatat dari pembicaraan pak Asyhari karena sejak pembicaraan beliau dari awal, aku masih terpesona dengan suasana majlis ini. Aku baru sadar harus mendokumentasikan kembali begitu pak Asyhari selesai bicara dan point inilah yang aku ingat.

Pembicara berikutnya adalah pak Ihsan. Berikut point yang dapat kucatat dan kucerna dari tausiahnya:


  1. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan di dunia, bagi agama dan akherat kelak.
  2. Beliau salut atas kekompakan angakatan 1995, dan kesuksesan para alumni atas bidang masing-masing. Hingga beliau berkata ketika mengajar kami yang masih polos dan ada yang nakal-nakal dahulu sungguh beliau tidak pernah berharap kami akan menjadi seperti kami hari ini. 
  3. Topik beliau berikutnya, rupanya beliau sudah membuat list para muridnya lengkap dengan profesi masing-masing. Beliau menyebut namaku yang paling pertama serta menyebutkan profesiku sebagai penghubung luar negeri yang perlu ku-klarifikasi bekerja pada Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations/UN. Beliaupun menambahkan bahwa sebegitu sibuknya aku mengurus dan memikirkan duni dan Negara ini sampai-sampai aku menunda pernikahan yang disambut tepuk tangan dan ketawa oleh rekan-rekan yang hadir. Selanjutnya beliau menimpali dengan mengataka atau aku belum nikah bisa jadi karena tidak laku-laku J. Suasanapun menjadi gemuruh dengan ketawa teman-temanku. Sambil ikut ketawa bathinku berkata, hmmm tunggu ya novelku terbit dengan berbagai kisah perjalanan hidupku mendekati cewek mancanegara dan beberapa daerah di Indonesia J. Pernah seorang staff NGO dari Qatar berkebangasaan Tunisia menawariku tuk menikah dengan anaknya, dasar belum jodoh, anaknya tidak mau ke Indonesia haha. Novelnya belum pernah kutulis sih, tapi ada niat dan bahan-bahannya sudah kukumpulkan dikit-dikit hehe.
  4. Orang kedua yang beliau sebut lagi adalah Agus Budi Susilo yang sudah menjadi hakim pengadilan negeri. Lalu Muhibuddin yang menjadi hakim pada pengadilan Agama yang sayangnya tidak hadir. Kemudian menyebutkan Eko yang menjadi pengacara dan Amin dan Prihantono dan lain-lain yang sudah menjadi dosen dan guru. Mas Imam yang sukses dengan usaha Mie Batoknya sudah tampil di ANTV karena keberhasilan businessnya. Lalu satu persatu profesi saudara-saudaraku yang lain yang tidak sempat kucatat.


Untuk profesiku sebetulnya ingin ku perjelas. Karena bekerja pada lembaga internasional apapun tidak ada yang permanen, semua berdasarkan kontrak. Akupun tidak tau bekerja pada lembaga apa ketika ada lagi reunian nanti di tahun 2017 karena program di mana aku bekerja sekarang di bawah MoU antara Pemerintah RI dan PBB hingga 2015. Aku merasa beliau telah berlebihan memujiku dan teman-teman yang hadirpun sudah pada bertepuk tangan, apa boleh buat dalam hatiku, semoga ini menjadi do’a. Saat bersamaan aku sedang menunggu “surat tidak keberatan/no objection letter” dari Kementerian Luar Negeri sebagai syarat melamar sebuah posisi di Organisation of Islamic Cooperation (OKI) di Jeddah – Arab Saudi. Aku ingin mencoba mengabdi langsung untuk pembangunan Ummat melalui lembaga ini kendati masih ragu dengan kemampuan bahasa Arabku, aku akan tetap mencoba sebagai tambahan pengetahuan. Dungo’ke yo teman-teman :)
 
Pernah kubaca sebuah buku diawal kuliah dulu membahas gelombang peradaban. Dijelaskan semakin modern peradaban semakin spesifik pekerjaan, sehingga semua berdasarkan kontrak. Manusiapun sangat mobile berpindah dari sudut bumi yang satu ke sudut bumi yang lain dengan mudahnya. Phenomena inipun kubuktikan sendiri ketika mengurus event-event internasional maupun ketika aku bekerja mendampingi para konsultan asing untuk projek-projek yang pernah kutangani selama di Aceh maupun di Palangka Raya. Sering aku membaca CV para tamu pejabat Negara asing yang datang dan para consultant tersebut, semuanya tidak ada yang tetap di satu lembaga maupun negara. Mereka loncat-loncat dari satu lembaga ke lembaga lain dalam kurun waktu berkisar antara satu hingga lima tahun, namun keahliannya tetap sebagai professional bidangnya.  Dalam kesempatan ini ingin kusampaikan secara singkat ke mana saja aku menghilang selama

Setelah lulus dari Krapyak, niatku masuk IAIN SUKA kandas karena tidak lolos. Ketika itu bersama Andy Bakhtiar serasa luntang-lantung pada hari 17 Agustus tidak tahu harus berbuat apa karena merasa bukan bagian dari apa-apa lagi, bukan santri pondok, bahkan bukan pulan rakyat Indonesia karena tidak mengikuti 17an. Sementara satu-persatu teman-teman yang lain mulai menyebar ke kampus di mana dia diterima atau menghilang entah ke mana. Demikian pula hasil internview calon penerima beasiswa ke Mesir di IAIN Semarang kandas. Semua temanku dari Krapyak yang ikut ke semarang dan menginap di rumah Ali Subur ketika itu gagal semua. Seingatku yang berangkat ke Semarang waktu itu, aku, Kholilurrahman, Muhibuddin, Azmi Ihsan dan siapa lagi ya?. Maaf aku lupa. Kalo ada yang tau atau yang membaca merupakan salah satunya, tolong tambahin ya hehe. 

 

Suasana registrasi ulang sebelum memulai acara puncak

Karena semuanya gagal, aku telpon nenek di Jakarta dan beliau memintaku ke Jakarta. Sampai di Jakarta aku fikir tempat tinggal sudah gratis sama nenek, mau minta biaya kuliah sama nenek atau para omku kayaknya ngak deh. Biaya kuliah dari Bak belum kunjung dikirim. Ada tawaran dari nenek untuk ikut kerabat Datuk yang sudah menjadi warga Mekah yang kebetulan ada di Jakarta waktu itu. Namanya Datuk Ali Jambi yang mempunyai toko di belakang Hotel Hana’ dekat ka’bah. Menjelang musim haji beliau selalu ke Jakarta untuk belanja pernak pernik haji di Tanah Abang untuk dibawak ke Mekah dan lucunya pasti diburu jamaah haji Indonesia! :)

Cerita menarik tentang Datuk Ali Jambi ini beliau punya kebiasaan menaruh ikan asin dalam kopernya. Sehingga ketika diperiksa oleh petugas imigrasi di Jeddah, petugas akan mencium bau ikan asin, maka kopernya langsung disingkirkan tanpa diperiksa lebih lanjut hahah ide cerdas!.

Berikutnya adalah ketika aku mengadakan pendekatan terhadap cewek putih yang kukenal bermuka Arab-Indo yang ada dikampusku yang ber-ibu asli Mesir dan ber-ayahkan Betawi. Suatu malam aku main ke rumahnya dan bercengkerama dengan mamanya yang sudah seperti Makku sendiri, tidak sengaja aku membicarakan tentang Datuk Ali Jambi. Rupanya almarhum ayah cewek yang sedang kudekati itu adalah teman Datuk Ali Jambi ketika sama-sama merantau ke Timur Tengah. Ayahnya meneruskan belajar di Al-Azhar Qairo hingga beliau menjadi Kyai terkenal di Kalangan Betawi Jakarta dan menjadi petinggi di MUI Jakarta pada bagian perizinan makanan halal. Sementara Datuk Ali Jambi malah berdagang di dekat ka’bah hingga dia berhasil mempunyai toko di belakang hotel Han’a tersebut. (almarhum ayah cewek tersebut meninggal sebulan setelah aku mengenalnya, karena aku baru sekali ketemu di kampus dan setelah itu tidak pernah ketemu, sehingga ketika ayahnya meninggal aku tidak ta’ziah pada tahun 1999 dan Datuk Ali Jambi meninggal tahun 2001).

Mengetahui Datuk Ali Jambi seorang pedagang, maka tawaran nenek ku tolak (bocah ngak tau bersyukur ye). Karena kufikir Datuk Ali Jambi seorang pedagang, pastilah awak disuruh jaga toko nantinya, sementara awak datang ke Jakarta mau belajar heheh. 

Karena tidak ada kepastian biaya kuliah, kuisi kegiatan dengan mendaftar sebagai peserta Studi Dasar Terpadu Nilai-nilai Islam di Remaja Islam Sunda Kelapa atau lebih dikenal RISKA (RISKA pada waktu itu menjadi barometer remaja masjid di Indonesia karena misinya yang ingin membalikan image islam yang terbelakang, kumuh dan tidak modis) yang berjarak hanya tujuh rumah dari rumah neneku. Di sini pula aku mulai ikutan shooting acara Hikmah Fajar RCTI ketika RISKA mendapatkan tawaran untuk menjadi audience

Rofik dukun sempat kirim surat kalau tidak salah waktu itu bilang kalau bicara mikenya jangan dimakan. Demikian pula Bak kirim surat yang menceritakan orang kampung melihatku di TV saat acara Hikmah Fajar. Saat itulah aku merasa niat kuliahku yang tertunda mulai terobati. Disamping itu kuisi dengan mengambil kursus bahasa Inggris di EIC  dekat stasiun Gambir hanya bertahan selama tiga bulan karena aku merasa tidak ada perkembangan, aku merasa lebih berkembang jika banyak membaca materi dalam bahasa inggris dan praktek langsung. Karena kursus sore, akupun ingin bekerja dipagi hari, sekedar lulusan tingkat menengah pekerjaan paling pol di ibu kota adalah menjadi sales. Toh kanjeng Nabi juga seorang pedagang fikirku. Pekerjaan inipun kujalani dengan menjadi penjual produk-produk aneh dari Cina,  mulai dari obeng yang mutarnya lebih mudah hingga cukur jenggot yang berbateray. Pekerjaan inipun hanya bertahan selama tiga bulan, karena kepolosanku, aku ditipu oleh petugas penyerahan barang/consginee untuk kujajajkan keliling Jakarta. Setelah kubuka kardusnya itemnya kurang lima buah, sementara aku sudah tanda tangan dengan isi kardus yang lengkap. Maka setelah melunasi barang yang digelapkan itu, akupun memutuskan keluar.

Berkat keaktifanku di RISKA aku mempunya banyak teman. suatu hari diawal tahun 1996 ketika sedang bercengkerama di RISKA, seorang temanku sedang membaca Koran REPUBLIKA memanggilku dengan antusias. Dia menunjukkan kepadaku sebuah iklan kampus yang cukup bombastis!. Bagi yang berwawasan internasional, tes masuknya diskusi panel dengan bahasa Inggris dan baca Quran. Bahasa pengantar kuliah Inggris, mahasiswa diwajibkan mengambil mata kuliah tambahan minimal dua bahasa asing selain Inggris. Akupun yakin akan Inggrisku yang sudah jalan dan Arabku yang tinggal dipoles bisalah untuk komunikasi, maka tanpa fikir panjang akupun melupakan lima formulir dari lima kampus yang sudah kukumpulkan. Setelah melihat rata-rata teman di RISKA selalu membicarakan business dan ada yang kuliah tasnya berisi barang dagangan, sementara aku akan hidup dengan apa di kota metropolitan ini?. Mengingat untuk agama aku sudah tau siapa Tuhanku dan mengapa dan untuk apa aku ada di dunia ini. Maka kuputuskan mengambil kuliah Ekonomi – manjemen.

Segera kutindak lanjuti iklan tersebut. Hasil dari interview panel seleksi mahasiswa, aku mendapatkan posisi kedua penerima beasiswa alias bebas biaya kuliah sebesar 75%. Alhamdulillah setelah menghubungi Bak langsung kirim uang dan akupun tercatat sebagai Mahasiswa STIE TRIANANDRA di Pondok Bambu-Jakarta Timur. Aku tidak peduli kampusnya kecil dan tidak terkenal, yang penting bisa kuliah dan ada dosen bulenya dan yang terpenting semangat belajarku. Untuk Internasional Business ada dosen dari Belanda. Untuk Bahasa Belanda dan Peranci yang kuambil dosennya dari kedutaan Belanda. Untuk pemantapan bahasa Inggris ada sepasang dosen suami istri dari Australia. Bahasa Jepang juga tidak kalah okenya. sayang ketika kerusuhan 1998, semua dosen asing ini pergi tanpa kembali.

Selama kuliah aku tetap aktif di RISKA sekaligus sebagai tempat nongkrong pulang kuliah, toh cuma jalan kaki dari rumah. Sempat selama tiga bulan nyambi menjadi marketing developer Lipo Karawaci. Karena kemampuan Inggrisku, supervisor memberiku sebuah daftar orang asing yang ada di Jakarta untuk kutelpon menawarkan rumah dan kondominium Matahari di Lipo Karawaci. Kemampuan cas cis cusku terbukti berhasil menjual sebuah unit di kondominum tersebut ke pengusaha Korea. Lumayan lah buat tambahan uang kuliah. Begitu diakhir semester dua, Bak kuminta stop mengirimiku uang, karena aku ingin beliau konsentrasi membiayai adik laki-lakiku yang cukup berpeluang untuk maju. 

Suatu malam sekitar jam 9, diawal tahun 1998 nenekku memanggil dan mengatakan ada telpon dari RISKA. Begitu kuangkat Setiawan sang Sekretaris Umum RISKA menjelaskan dia menelpon karena ada senior dari HMI datang ke RISKA mencari calon temannya untuk menghadiri Konferensi Pemuda di Ethiopia. Syaratnya orang tua mengizinkan dan bersedia menyiapkan uang saku sebesar US$ 600-1,000. Rupiah sedang terjun bebas dari 2,500/US$ ke 12,000/US$ waktu itu. Setiawan merasa aku cocok untuk ikut seleksi ini. Diapun menambahkan agar aku menyiapkan CV bebahasa Ingris sebagaimana yang diminta. 

Malam itu juga hingga jam 1 malam kuketik CVku yang pertama satu-satunya dalam bahasa Inggris menggunakan mesin ketik om Naser dan hingga sekarang aku tidak pernah memiliki CV berbahasa Indonesia. Benar saja, keesokannya satu jam menjelang interview di sekretariat RISKA, tujuh teman-temanku sesama anggota RISKA dari tujuh kampus terkemuka di Jakarta yang ikut interview, belum ada satupun yang memiliki CV, akhirnya kupinjamkan CV-ku buat mereka contek formatnya!. Amal…amal…hehe.

Aku sudah melupakan interview tersebut dan beberapa bulan kemudian kerusuhan Mei 1998 pun terjadi. Aku ikut rombangan kampusku menduduki DPR hingga Soeharto turun tahta. Sayangnya ketika Soeharto berpidato pengunduran dirinya, aku sedang pulang ke rumah, jadi tidak ada teman seperjuangan untuk melampiaskan kegembiraanku. Segera kuambil jaket almamater dan kembali lagi ke gedung DPR untuk bergabung dengan teman kampusku, sayangnya mahasiswa sudah terpecah dua begitu Soeharto tumbang. Satu pihak mendukung Habibie sebagai presiden dan di pihak lain menolaknya. Karena takut terjadi bentrokan antar mahasiswa, maka sekitar jam dua malam rombongan kampusku memutuskan untuk menarik diri dari gedung DPR. 

Sekitar bulan Juni aku dipanggil bang Ivanul Furkhan selaku Ketua Umum RISKA. Saat itu aku sedang menjabat ketua Unit Bahasa RISKA dengan menyelenggarakan club bahasa Inggris dan Arab. Sambil menyalamiku dia mengucapkan selamat karena aku terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk menghadiri the 2nd Global Youth Conference for the End of World Hunger di Addis-Ababa, Ehtiopia yang dimotori teman-teman Jepang. Tidak terbayang ketika ngaji madrasah sore di kampung sewaktu kecil dulu guruku berceita tentang tujuan hijrah pertama umat Islam. Sekarang insyaAllah aku akan mengunjunginya. 

Belakangan aku baru mengetahui abang senior di HMI ini pernah menjadi tenaga Sukarelawan PBB di India dan berkenalan dengan lembaga dari Jepang yang disebut Youth Ending Hunger (YEH) sekitar tahun 1991 di India. Begitu dia selesai dari India dia dikontak lembaga Jepang tersebut untuk menjadi afiliasi lembaga ini di Indonesia dan diundang menghadiri pertemuan pertamanya di Kyoto-Jepang. Waktu itu dia mengajak dua anak pejabat tinggi negeri ini. Demikian pula pada tahun 1995 YEH mengadakan konferensi di UNICEF house New York, lagi-lagi abang senior HMI ini mengajak dua orang anak pejabat tinggi yang lain, mungkin sebagai loby biar organisasi cepat berkembang namun kenyataannya setiap pulang konferensi, sepertinya sang anak-anak pejabat itu tenggelam dengan jabatan ayahnya kali ya heheh. Maka abang senior HMI tersebut disarankan oleh temannya untuk mencari activist. Sasaranya waktu itu menelpon Remaja Masjid Pondok Inda, Remaja Masjid Al-azhar dan yang nyambung hanya Remaja Masjid Sunda Kelapa Menteng. 

Segera kuberitahu Mak dan Bak melalui surat dan tante Idawati sebagai tante andalan ketika menemui kesulitan. Aku jelaskan membutuhkan tambahan uang saku, alhamdulillah dengan entengnya tante Idawati bilang kebetulan dia baru pulang Umroh dan masih ada beberapa Real dan Dolar sisanya. Sehari kemudian nenek memintaku menukarkan beberapa lembar dolar pecahan US$ 100 dan sepulangnya dari bank Mandiri Imam Bonjol aku diberi nenek sebanyak US$ 400. Alhamdulillah… 

Wah tinggal beberapa ratus dolar lagi neh. Maklum bersama teman seniorku dari HMI tersebut kami coba loby teman-teman Jepang agar penerbangan Singapore Airline ke Ethiopia yang semula transit di Dubai dibelokkan menjadi transit di Jeddah karena kami akan melakukan Umroh yang sangat penting untuk keyakinan agama kami dan membuat kami tambah semangat untuk menghadiri acara di Ethiopia. Si Jepangpun setuju. Maka mau tidak mau aku harus mengusahakan uang tambahan untuk Umroh. Siapakah sasaran fundingku berikutnya? Otakku berkeliling dari satu kegiatan ke satu kegiatan yang pernah kuikuti. 

Sasaranku pertama adalah melapor ke bang Faisal Motik, adiknya Dewi Motik selaku pesohor RISKA jadul yang rumahnya berjarak satu rumah dari Masjid Sunda Kelapa. Ku laporkan ke dia bahwa aku terpilih untuk ke Ethiopia. Akupun minta nasehatnya, mengingat aku punya kesan ketika zaman Soeharto, activist yang dekat dengan asing dan berbahasa Inggris selalu dituduh PKI. Dengan gayanya yang khas sambil menyulut rokok dia berkata “lo harus berangkat ke Ethiopia, biar lo tau kalo Soeharto itu cuma sebutir pasir di antara Pyramid Mesir” dengan senyumnya yang khas. Ketokohan bang Faisal Motik ini kukagumi karena pola fikirnya yang bertema high politik dengan capital “P” demikian istilah beliau. Di antara kata bijaknya yang aku ingat hingga sekarang adalah “lo harus belajar dari semua guru biar lo tambah bijak dan mampu melihat dari berbagai sudut pandang”, “Sunda kelapa itu masjid orang Islam tuk rahmatan lil alamin, tidak muhammadiya, tidak pula NU, semua orang Islam bole beraktifitas di situ”. “Bangsa lo ini besar, maka lo harus terlatih untuk duduk bersama dengan yang beragama lain kalo lo mau jadi pemimpin”.

Setelah berbincang dan mendapatkan nasehat yang memantapkan niatku, akupun pamit tapi bang Ical, demikian panggilan akarabnya di kalangan anggota junior RISKA, memanggilku tuk kembali kepadanya. Sambil mengeluarkan dompet dan menghitung beberapa lembar uang pecahan US$ 100 yang entah berapa jumlahnya, yang jelas cukup tebal. Dia keluarkan semua dan menghitung lembarannya satu persatu. Belum selesai dia menghitung, dia ambil satu lembar dan menyodorkan kepadaku sambil berujar “buat lo satu aja!” sambil ketawa besar khas Palembangnya. Dengan cengengesan dan ketawa atas kelucuan bang Ical akupun berterima kasih dan pamitan. Alhamdulillah kayaknya jadi neh umroh waktu transit di Jeddah heheh.

Bermodalkan surat penunjukanku sebagai peserta terpilih untuk mewakili Indonesia di Ethiopia, ku coba buat proposal kecil-kecilan. Sasaranku kali ini adalah Nahla Club. Aku mengenal perkumpulan ini ketika menjabat sebagai ketua Unit Bahasa RISKA. Ketika kuminta nasehat bagaimana mendapatkan guru bahasa Ingris native yang Muslim ke bang Adi Warman Karim, alumni RISKA yang sekarang menjadi tokoh perbankan Syariah dan mendirikan perusahaan konsultasi business Islami menyarankanku mengikuti sholat Jumat di menara BRI. Di sana ada perkunpulan  bernama Nahla Club yang merupakan perkumpulan eksekutif Muslim di Jakarta yang memberi wadah bagi orang asing yang muslim di Jakarta menyalurkan potensinya membangun ummat. Khotbahnya berbahasa Inggris dengan menghadirkan khotib-khotib dari tokoh-tokoh nasional dan internasional. 

Maka kuluangkan waktu mencari di mana keberadaan Nahla Club yang sudah lama tidak kuikut sholat jumatnya. Berdasarkan penelusuranku Nahla Club sudah berpindah ke Menara Saidah di Jl. Gatot Subroto. Ketika itu ketuanya adalah seorang pengusaha muslim sukses dengan ekpor comoditas ke Afrika. Karena tidak berhasil bertemu beliau, kutitipkan proposalku kepada sekretarisnya. Beberapa hari kemudian kutemui sekretarisnya dan memberikanku sebuah amplop, saat kubuka, alhamdulillah beliau memberiku US$ 100. Hingga tulisan ini kubuat, aku belum bisa menemukan beliau, suatu saat ingin kutelusuri dan bersilaturrahim dengan beliau. Maka rasanya sekarang kufikir sudah cukuplah uang sakuku untuk Umroh.

Konferensi di Ethiopia diadakan di gedung Economic Cooperation for Africa atau dikenal dengan ECA building. Di sini pulalah aku mulai bersentuhan dengan dunia PBB, karena saat tour bangunan, kami di bawa ke sebuah ruangan di mana petinggi dunia rapat dan ruangan conferensinyapun berlatar belakang logo PBB. 

Sepulang dari Ethiopia agendanya adalah Umroh. Waktu pergi kami hanya transit di Jeddah, sepulangnya barulah kami siapkan untuk Umroh. Sewaktu meninggalkan tanah air, Datuk Ali Jambi kebetulah di Jakarta dan memberiku kartu nama alamat rumahnya di Mekah. Demikian pula nenek memintaku menemui bang Sarbini yang bekerja di KBRI Arab Saudi. 

Begitu sampai di asrama haji Jeddah kami segera istirahat dan satu jam kemudian petugas asrama datang ke kamar memperkenalkan diri bernama Sarbini. Dia meminta passportku untuk dipotocopy. Aku tidak menanyainya karena nenek bilang bang Sarbini kerja di KBRI, sementara ini Asrama haji fikirku. Setelah selesai fotocopy rupanya dia membaca dataku di passport. 

“Ahyoni lahir di Jambi ya?” tanyanya. “Iya bang” jawabku. “Mertua saya orang Jambi” katanya. Sambil mengeluarkan kartu nama Datuk Ali Jambi aku berkata “Saudara Datuk saya, Datuk Ali Jambi sedang di Jakarta sewaktu saya mau berangkat memberikan kartu namanya dan meminta saya untuk bertandang kerumahnya”. Dia langsung membaca kartu nama tersebut dan langsung teriak “Itukan mertua saya!”. 

Berkat silaturrahim ini maka penuhlah kulkas dikamarku dengan berbagai botol jus dan kurma segar berwarna kuning. Ke mana-mana dijamunya dengan transport KBRI. Teman seniorkupun bertemu dengan temannya dan ikut mengantar ke Bandara setelah umroh, eh begitu dalam perjalanan ke bandara, aku teringat kameraku ketinggalan. Bang Sarbini langsung putar balik begitu kami diturunkan di parkir bandara. Begitu kami sampai di check in petugas memberitahukan bahwa pesawatnya sudah berangkat dan kami bisa ikut pesawat keesokannya. Ketika bang Sarbini datang dengan terburu-buru memberikan kameraku, dia kebingungan melihat kami malah menuju mobil. Alhamdulillah jadi dua kali dapat Umrohnya J dan kali yang kedua inilah aku baru bisa cium hajar aswad. 

Sesuai komitmen yang disepakati di Adis Ababa semua Negara mengadakan konferensi tingkat nasional di negara masing-masing. Sekitar Januari 1999 teman senior HMI yang bersamaku ke Ethiopia menelpon untuk membicarakan penyelenggaraan konferensi nasional Pemuda Pemberantas Kemiskianan pertama di Indonesia. 

Sepulang dari Ethiopia aku selalu cerita dengan antusias kepada siapapun temanku di RISKA, maka ketika aku membutuhkan pasukan untuk mengadakan perhelatan akbar tersebut, hampir delapan puluh persen “tokoh-tokoh” penting dan activist di RISKA ikut membantuku, hingga sempat terdengar isu miring di RISKA yang mengatakan aku besar karena RISKA dan sekarang menjauhi RISKA. Padahal tidak demikian adanya. Demikian pula dari kampusku ada empat orang teman yang ikut membantuku. Termasuk cewek Arab-Indo yang kutaksirJ. Untuk menyelenggarakan event akbar tersebut, aku dinobatkan sebagai Chairperson 1st National Youth Conference for The End of World Hunger in Indonesia sekaligus menjadi Chairperson National Student Committee di bawah Yayasan Empathi Hidup Indonesia (YEH-Indonesia). 

Akupun baru tau setelah senior HMI yang membawaku ke Ethiopia cerita, rupanya YEH-Indonesia sudah berdiri secara resmi sejak tahun 1995. Nama asli lembaga ini dari Jepang awalnya Youth Ending Hunger (YEH), namun ketika dibawa ke kementerian yang menangani pendaftaran Yayasan, pemerintah Indonesia yang masih dikuasai rezim Orde Baru ketika itu keberatan dengan kata “Hunger” atau “Kelaparan” dalam nama tersebut. Karena mereka malu dan mengatakan tidak ada orang lapar di Indonesia. Maka digantilah dengan nama versi Indonesia menjadi Yayasan Empati Hidup (YEH-Indonesia).

Alhamdulillah berkat dukungan teman-teman, konferensi kami yang pertama pada 13-15 Mei 1999 menuai sukses besar. Kendati sempat dituduh peserta rekan-rekan mahasiswa aku mendapatkan dana dari Golkar. Acara diliput berbagai Stasiun TV dan Koran terkemuka. Pak Mar’i Muhammad selaku ketua PMI dan perwakilan Kementerian Sosial hadir membuka acara, demikian pula Country Direktor UNICEF yang membawahi Indonesia-Malaysia ikut hadir membuka sebagai donor konferensi yang kukenal baik sebagai bule mu’allaf beristrikan orang Minang. Hingga tulisan ini dibuat akupun belum berhasil mencari beliau. Karna banyak informasi di internet hanya seputar beliau menjabat di Indonesia, tidak setelah beliau pindah ke Eropa. Semoga ada yang membaca tulisan ini mengetahui keberadaan beliau ya heheh J. Konferensi pertama ini juga dihadiri  kurang lebih lima puluh perwakilan kampus-kampus di Jakarta dan tiga belas Provinsi. Demikian pula perwakilan teman dari Jepang ikut menyaksikan kesuksesannya. 

Karena keberhasilan konferensi tersebut, teman-teman Jepang mengundangku untuk menghadiri 2nd World Leader Meeting YEH di Jepang pada tangal 14-18 Agustus 2000. Di pertemuan ini aku baru mengethaui bahwa Indonesia sebagai negara pertama yang menyelenggarakan konferensi nasional selain Jepang. 

Sekitar kurun waktu 1998-2002 kujalani kehidupan aktivistku antara YEH-Indonesia dan RISKA sambil kuliah. Sempat aku bekerja pada sebuah lembaga internasional yang merupakan gabungan media di Eropa di bawah Le Monde Prancis. Tugasku ketika itu adalah menghubungi para petinggi daerah untuk mengetahui dan mendata kebutuhan investasi daerah dalam pembangunan infrastruktur.  Informasi ini kemudian dipublikasikan di Eropa untuk menarik minat para investor Eropa. Hanya sebulan aku bekerja di sini karena terjadi salah faham dengan bossku orang Yunani yang selalu temperamen tinggi. 

Belakangan kuketahui dari cerita dosenku dari Australia yang menghubungkanku dengan lembaga ini cerita bahwa si boss Yunani ini memang sombong, misalnya ketika mereka ketemu di Bandara Cangi Singapor mendapatinya teriak-teriak di antara atrean orang banyak. Berbeda dengan rekannya Tommy yang berkebangsaan Perancis cukup tenang dan mengingatkanku mengambil sajadah ketika berpamitan selesai bekerja dengan mereka. Yang perlu ku syukuri adalah tiga bulan setelah berhenti dari lembaga ini, hotel JW Marriot di mana lembaga ini berkantor diserang bom teroris. Sempat pula di masa ini, atas dorongan teman-teman aku diminta ikut mencalonkan diri dalam bursa calon ketua Umum RISKA. Mungkin karna sudah banyak aktif di luar dan RISKA sudah mulai dikuasai mayoritas anak-anak PKS, maka flatform Islam rahmatan lil alamiin yang kuangkat kalah. Aku diserang dengan berbahayanya ide pluralisme yang aku lihat mereka terlalu sempit menterjemahkannya.

Karena sudah cukup lama kuliah kombinasi aktif di luar kampus dengan YEH-Indonesia, RISKA dan tekadang ikut Reboan HMI yang berdekatan dengan RISKA. Akupun tidak ingin tanggung-tanggung, maka ketika menulis skripsi, kutulis skripsiku dalam bahasa Inggris. Kebetulan ketika sedang mencari data di perpustakaan Bank Dunia aku berkenalan dengan seorang mahasiswa Swedia bernama Carl Barneco yang mendapat beasiswa untuk menulis skripsi tentang dampak krisis Asia di empat negara. Dia berbasis di Indonesia karena Indonesia paling parah katanya. Dari perkenalan ini, kamipun menjadi teman selama menulis skripsi dan saling membantu mencari data. Aku merasa sangat terbantu karena dia memberiku CD dari profesornya yang berisi data ekonomi hampir semua negara di dunia yang dimiliki oleh IMF. Ini sangat mendukung skripsiku yang berjudul “The Influential Factor on Indonesia’s Export Volute to Germany; 1990-2000”. Dia kukenalkan ke keluarga nenekku, lebaran Idul Adha ku ajak ke rumah dan Sholat idul Adha!. Padahal dia bukan Muslim tapi karena keingintahuannya kuajak saja dia sholat di Masjid Sunda Kelapa. Waktu berdiri dan takbiratul ihram dia ikut, demikian pula ruku’ dan sujud, begitu duduk antara dua sujud dia tidak bisa lalu dia coba untuk jongkok, akupun mulai tidak khusu’ karena melihat tingkahnya. Eh malah dia berdiri dan memotret orang sholat hingga sholat selesai J. Seusai sholat kuajak dia ke rumah om Yari yang potong sapi ketika itu.

Skripsi kamipun selesai bersamaan dan tinggal menunggu sidang. Maka waktu luang ini kami manfaatkan untuk liburan. Pilihan kami liburan ke Bandung dan Yogyakarta bersamaan dan dari Jogja Carl melanjutkan ke Bali dan aku kembali ke Jakarta. Sewaktu di Yogyakarta, sebagai mahasiswa perantauan, untuk menghemat maka pilihannya menginap di rumah saudara di Condong Catur. Setelah main ke Borobudur dan beberapa obyek wisata, kuajak Carl mengunjungi sekolahku dulu alias MA Ali Maksum. Argumentku adalah untuk memovitasi adik kelas dan memberi kesempatan kepada Carl untuk melihat pendidikan Islam dari dekat. 

Dari ceritaku tentang kehidupan Pondok Carl tertarik ingin membeli sarung, sekalian akan ia pakai ketika di bali nanti katanya. Malam sebelum kunjungan ke Krapyak kami main ke Malioboro dan mampir ke Al-Fath untuk membeli sarung. Setelah dari Al-fath kami nongkrong sebentar sambil menikmati minuman ringan di kaki lima. Carl memesan Bir Bintang, aku Coca-Cola sudah cukup hehe. Tiba-tiba ada orang mengajakku bicara dengan marah-marah, dengan bahasa Jawa yang kurang kumengerti dia teriak-teriak kepadaku. Merasa tidak bersalah, aku naik pitam dan berkata dengan keras “Jangan macam-macam ya, saya lulusan Krapyak sini!” sambil menunjuk ke arah Krapyak.  rupanya kata “jangan macam-macam” adalah kata paling sensitive baginya. Dia mendekat dan mau menyerangku, alhamdulillah ada yang menariknya mundur dan minta maaf kepadaku sambil menjelaskan bahwa itu orang MABOK!

Demikian pula cerita kesalahfahaman terjadi sewaktu di Jakarta menjelang berangkat ke Yogya. Aku menemui Carl di penginapannya di daerah Kebon Sirih. Carl memintaku masuk ke kamarnya karena ada beberapa barang dan buku yang ingin dia berikan kepadaku mengingat setelah liburan dia langsung balik ke Swedia. Saat di kamarnya inilah sang empunya penginapan melihatku dan dengan kasar menanyai siapa aku. Kuberitahu bahwa aku temannya Carl, dengan sombongnya dia berkata “Whatever!” sambil berlalu. Carl menanyaiku apa yang terjadi, maka Carlpun protes atas perlakuannya kepadaku karena di depan tadi kami sudah izin petugas. 

Sambil menunggu taxi kami duduk di depan penginapan. Kami mengobrol dengan tamu bule yang lain, dan terlibat diskusi panjang dengan seorang Inggris yang mengaku menjadi guru Bahasa Inggris  karyawan TVRI. Melihat kami akrab mengobrol, sang empunya penginapan akhirnya ikut mendengarkan. Semula si bule Inggris mengira kami adalah pasangan homo. Ketika ditanya asalnya di Inggris dengan tidak PD dia mengatakan hanya berasal dari kota kecil dan menambahkan bahwa di Inggris ada kota khusus kebanyakan homo dan kami bisa pergi ke sana karena di sana homo bebas. Aku cuwek dan Carlpun seperti tidak mengetahui ke mana arah omongan si Inggris. Ketika ditanya apa dia senang tinggal di Indonesia, dengan antusias bilang sangat senang, apalagi banyak PSK yang membuat dia gampang “jajan” di mana-mana. 

Di saat bersamaan sang empunya penginapan memanggil pedagang makanan yang lewat dan menawarkan kami kopi sambil berlalu menemui pedangan. Si Inggris langsung menambahkan yang membuat dia senang juga karna orang Indonesia ramah sebagaimana si empunya penginapan yang menawarkan kopi. Si empunya penginapan gabung kembali ketika Carl mencontohkan aku yang sering puasa senin kamis dan tidak minum al-kohol. Si Inggrispun menanyaiku bagaimana kata Al-quran tentang al-kohol. Selaku orang yang pernah nyantri maka kucoba jelaskan sebaik mungkin hingga si Inggris mengiyakan kata-kataku. Dia menambahkan keburukan al-kohol yang dia alami sendiri ketika pulang dalam keadaan mabok nyasar masuk apartemen orang lain dan diusir. Mendengar dialogueku dengan para bule ini akhirnya sang empunya penginapan meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadaku. Demikian pula si Inggris meminta maaf karena su’udzonnya. Akupun memaafkannya.  





Carl Barneco sedang berdialog dengan Santriwati




Carl Barneco sedang berdialog dengan Santriwati




Keesokan harinya kami ke Pondok menemui siapa saja di kantor madrasah yang menggunakan gedung pertemuan alumni ini ketika itu. Aku lupa siapa yang kami temui, yang kuingat dia mengatakan kebetulan ada kelas putri jadwalnya belajar bahasa Inggris dan guru bahasa Inggrisnyapun membolehkan. Bersama guru bahasa Inggris kami menuju kelas di samping rumah KH.Atabik Ali. Aku mulai memberikan pengantar dengan bahasa Inggris lalu Arab sebelum kesempatan kuberikan kepada Carl. Beberapa santri bertanya siapa aku karena rasa penasarnnya. Kujelaskan aku Alumni MA Ali Maksum dan mereka masih penasaran, tapi waktu sudah kuserahkan ke Carl. Dari kelas kami kembali ke kantor untuk pamitan. Di jalan aku bertemu pak Taufik yang menanyakan di mana aku sekarang. Kujelaskan kuliah di Jakarta dan sedang menunggu sidang skripsi.

Begitu siap sidang, aku tidak ingin tanggung-tanggung pula. Aku ingin skripsiku disidang terbuka dengan mengundang hadirin dan dosen termasuk dari luar kampus. Kebetulan cewek Arab-Indo yang kutaksir menelponku dan dia mengatakan bahwa dari kampus dia disarankan untuk ikut sidang skripsi terbuka sekalian bersamaku. Maka kami berdua dipanggil untuk bertemu sang pemilik kampus untuk membriefing kami tentang teknik presentasi yang akan kami lakukan. Setelah itu cewek yang lagi sedang kudekati inipun meminta bantuanku untuk menerjemahkan presentasinya ke Inggris. Demikian pula kampus membuat undangan untuk event ini dan alhamdulillah setelah dinilai oleh empat penguji dengan satu orang dosen dari Belanda, nilai kami A semuanya, kendatipun nilaiku sedikit di bawah cewek yang kutaksir hehe.

Selesai sidang aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi sambil berdiri kami berdua di panggung, hadirin satu persatu menyalami kami layaknya pasangan pengantin. Seorang penguji menyalamiku dengan berkata “welcome to the real world” sambil tertawa. Saat itu aku belum begitu paham makna sesungguhnya kalimat itu, aku mulai mengerti ketika berfikir mulai sanksi untuk meneruskan menjadi aktivis YEH-Indonesia karena merasakan adanya pergulatan untuk menyeimbangkan antara Idealisme dan Kemandirian keuangan. Ditengah pergulatan fikiran inilah ketua Umum Masjid Agung Sunda Kelapa yang kebetulan masih tetangga neneku pada suatu pagi setelah sholat subuh sambil berbincang sejenak setelah memperkenalkaku kepada pak Tri Soetrino sambil lewat di serambi masjid menawariku untuk ikut membantu pembenahan manajemen Masjid yang terkenal di ibu kota negara ini, kebetulan aku diminta membantu menantu pak Tri Soetrisno yang baru diangkat menjadi Sektretaris Umum Masjid. 

Ketika menandatangani kontrak aku hanya berfikir, ya Allah jika nilai kontrak ini sepadan dengan kemampuanku, alahamdulillah berarti seginilah rezkiku, namun jika tidak senilai, sisanya berupa amal hamba sumbangkan kepada neneku yang telah memberiku makan dan tempat berteduh selama ini dan kepada kedua orang tuaku serta kepada semua orang yang telah membuatku menjadi seperti aku hari ini. Benar saja ketika Aceh dilanda tsunami aku melamar ke UNHCR yang membutuhkan staff. Setelah tandatangan kontrak dengan UNHCR dan mampir ke Masjid, seusai sholat seorang rekan senior pensiunan Pertamina yang mengabdikan pengalamannya untuk membangun masjid menanyaiku dengan penuh keyakinan bahwa aku pasti mendapatkan lebih besar dari kontraku dengan Masjid. Ia benar, alhamdulillah persis angkanya sepuluh kali lipat!.

Petualanganku ke Aceh dengan UNHCR tidak lama. Hanya tiga bulan dari 27 January 2005 hingga akhir Maret. Ini disebabkan karena UNHCR dicurigai Jakarta ikut membantu pengungsi GAM di Malaysia. Sehingga UNHCR diminta keluar oleh Pemerintah RI. Karena pase emergency, pertama aku ditugaskan sebagai logistic officer dengan sepuluh pekerja yang memastikan pengiriman barang dengan dua helicopter tentara Swiss di Bandara Iskandar Muda. Tentang heli kepunyaan Swiss ini aku diperitahu atasanku orang Austria yang mengajariku bentuk-bentuk heli dan menjelaskan UN/PBB yang netral bisa menggunakan pesawat militer Swiss karena tidak memiliki musuh.  Demikian pulan sebagai penerima barang yang datang dengan truk dari Medan. 

Seminggu bertugas di Banda Aceh, aku dipindah ke Meulaboh karena UNHCR membutuhkan orang di Meulaboh. Di sini tugasku super sibuk, peranku di kantor base sebagai Administrasi, Keuangan, operator radio VHF dan Codan, sesekali logistic, mengurusi tukang masak, tukang kebun dan Satpam. Sering supir kantorku tergopoh-gopoh datang ke kantor karena bosku seorang ibu-ibu Italy itu terkadang ketemu pejabat yang tidak berbahasa Inggris, sehingga aku diculik ke lapangan untuk menyelesaikan masalah bahasa ini. 28 Maret aku ditarik ke Banda Aceh karena operasi diberhentikan oleh Pemerintah RI. Ketika pulang sholat Asar dari masjid dekat kantor UNHCR di Banda Aceh, seorang petinggi DPRA menemuiku dan mengatakan bahwa mereka tetap menginginkan UNHCR beroperasi karena kerjanya nyata. Maka kuperkenalkan beliau kepada team leader kami. Akupun kembali ke Jakarta dan Jambi untuk istirahat.

Tanggal 4 April 2005 aku bergabung dengan UNDP dan ditugaskan di Meulaboh. Setahun lamanya aku bertugas sebagai administrasi dan keuangan serta mengurusi kantor dibantu oleh seorang tukang masak, dua orang tenaga kebersihan, dua orang driver dan enam orang Satpam. Karena background-ku yang activist, sungguh tersiksa rasanya duduk di belakang meja dan mengerjakan hal yang rutin. Maka kuputuskan untuk melamar pindah ke program ketika ada kesempatan, boskupun mengizinkan. Setelah setahun di Administrasi, akupun mulai bekerja untuk sisi program. Aku mendapat tugas monitoring semua lembaga PBB, NGO lnternasional maupun lokal serta Universitas yang mempunyai kontrak kerja dengan UNDP. Disamping itu juga mengelola dan terkadang memimpin rapat koordinasi pemulihan mata-pencaharian sebulan sekali. Kegiatan ini kujalankan hingga program pemulihan mata-pencaharian UNDP berakhir di Pantai Barat – Meulaboh dan Calang Juli 2007. 

Tanggal 1 Agustus 2007 aku mendapatkan posisi baru di UNDP Banda Aceh. Nama programnya Disaster Risk Reduction Aceh (DRR-A) yang masih sangat baru. Ketika itu kami hanya empat orang di tim DRR-A ini. Tiga staff nasional dan satu orang penasihat senior berkebangsaan Inggris. Tim kami sangat solid dan kompak. Sehingga kami mampu menfinalisasi dokumen proyek dengan cepat. Sesuai dokumen proyek, setidaknya dibutuhkan 12 personil untuk menjalankan DRR-A, sambil menunggu perekrutan tambahan personel aku ditugaskan untuk mengurusi dua komponen dari empat komponen; komponent 3 untuk membangun kapasitas Pusat Riset Bencana dan Tsunami di bawah Universitas Syiahkuala (UNSYIAH) dan mendirikan program Paska Sarjana Manajemen Bencana di UNSYIAH. Dan komponen 4 untuk penyadaran publik dan pendidikan terkait bencana. September 2010 DRR-A memiliki team lengkap, akupun mendapatkan posisi tetap pada komponen 3 hingga berakhir pada Mei 2012 yang lalu.

Dua bulan aku istirahat kembali ke Jakarta. Kendati selama di Aceh sering ke Jakarta dalam rangka tugas, kali ini beda, aku pulang karena end of mission.  Agustus 2012 aku mendapatkan posisi sebagai asisten administrasi di kantor PBB untuk Koordinasi REDD+ di Indonesia di Palangka Raya – Kalimantan Tengah hingga sekarang. REDD+ adalah singkatan dari Reducing Emision from Deforestation and Forest Degradation sebagai langkah kongkrit dari hasil pertemuan dunia tentang perubahan iklim di Bali tahun 2006. Indonesia sendiri berkomit untuk mengurangi emisi sebanyak 26% jika bekerja sendiri atau 41% dengan kerjasama internasional menjelang tahun 2020. Demikianlah kisah singkat perjalananku menghilang selama delapan belas tahun hehe.

Sekarang kembali ke tausiah pak Ihsan. Jika pak Hendry menyoroti rumah tangga dan hubungan pasangan. Pak Asyhari menyoroti manfaat diri untuk orang lain dan lingkungan. Pak Ihsan merangkum semua dengan menasehatkan agar jangan sampai harta, anak, istri dan pekerjaan membuat kami lupa akan Allah. Akupun teringat ketika di Jepang hendak sholat bersajadahkan koran di antara teman-teman Jepangku yang sibuk bekerja di ruangan sangat terbatas. Aku sholat menghadap seorang teman senior Jepang yang memutar kursinya di hadapanku sholat sambil berkata “Oo I am God” J . Dan selanjutnya nasehat beliau tetap menjaga hubungan ruh dengan para guru dan almamater. 

Ketika diminta perwakilan alumni. Awalnya kufikir sudah ditentukan panitia. Karena kulihat sebelum acara dimulai  antar panitia dan pak Ihsan sering bisik-bisik, mungkin membicarakan hal ini. Rupanya sampai waktunya tidak ada nama yang disebut. Maka akupun segera menangkap kesempatan ini untuk menyampaikan beberapa hal yang kuanggap penting sebetulnya sudah kupersiapkan di laptop, namun karena laptop di penginapan, maka aku bicarakan poin yang aku ingat saja:



  1. Aku mengusulkan agar dari sini bergerak menuju pembentukan alumni dengan skala yang lebih besar atau lintas generasi. Belakangan ada dua usul yang senada dengan ini. Akupun paham ketika ada yang melengkapi ide ini dengan mengatakan agar alumni lintas generasi biar diserahkan kepada Yayasan. Angkatan 1995 tetap berjalan sendiri dulu. Maksud usulku untuk skala besar adalah untuk tujuan sinergi dalam hal ekonomi. Karena tidak terlalu besar gapnya di sini. Semua orang butuh rekan bisnis dan saling tolong dan semua alumni memiliki bidang yang bisa bersinergi dengan bidang lain. Untuk kangen-kangenan dan nge-jock tentu tidak nyambung jika dua generasi yang berbeda duduk dalam satu forum.
  2. Krapyak pencetak santri yang berwawasan rahmatan lil alamiin. Ketika terjadi peristiwa serangan teroris sering teman-temanku bertanya di mana pesantrenku?. Terutama untuk orang asing maka kugunakan kesempatan ini untuk menjelaskan dan berusaha menjadi duta Islam sebaik yang bisa kulakukan.
  3. Untuk meningkatkan peran aktif lulusan Krapyak di kancah internasional. Agar bahasa Arab dan Inggris digalakkan. Misalnya untuk menjadi staff di OKI atau Organisation for Islamic Cooperation (OIC) minimal Inggris dan Arab dan diharapkan juga bisa Prancis. Sedangkan bahasa resmi PBB ada tujuh bahasa di mana Arab salah satunya.

Berikut adalah poin yang sudah aku persiapkan di laptop yang terlupakan saat bicara di depan hadirin:

1.       Proactively interfacing current issues against Islamic tenet. Setelah saya refleksi ke belakang rasanya santri akan lebih siap terjun ke masyarakat jika mereka senantiasa diberi kesempatan untuk interface atau menghadap-hadapkan isu-isu contemporer dengan ajaran Islam agar mereka lebih kritis selama menggali ilmu di Krapyak dan lebih siap ketika keluar. Artinya mereka diberi kesempatan untuk mencermati dan terekspose kepada isu-isu kekinian.
2.       Scholarship, banyak sekali kesempatan beasiswa baik dari dalam negeri apalagi dari luar negeri. Ke mana informasi ini bisa dishare?. Ada juga kemungkinan alumni mengadakan wadah beasiswa untuk merekrut calon santri berbakat yang tidak mampu.
3.       Stakeholder’s map of alumni. Pemetaan pemangku kepentingan alumni. Ini tentu memerlukan paling tidak workshop sehari untuk memetakan agar menghasilkan document kerangka kerja dan acuannya. Secara prinsip untuk urusan kerjasama business tentu tidak terlalu terkendala jika lintas generasi alumni bertemu, tapi untuk urusan kangen-kangenan, nostalgia, saling memberi semangat karena kedekatan satu sama lain tentu ini hanya bisa berlaku satu angkatan. Untuk memperkuat jaringan alumni sebaiknya ada website dan mulailah mengumpulkan data alumni sebanyak mungkin sejak sak mbien-mbienne J.
4.       Frequency and type of reunion. Ini sudah disepakati 2017 hehe. Typenya tergantung skala yang hadir lintas generasi atau tidak. Yang jelas potensi sinergi lintas generasi sangat besar dan bermanfaat.
5.       Indonesian economy context, middle income country; menurut perangkingan PBB Indonesia sudah bukan negara berkembang, tetapi sudah menjadi negara berpenghasilan menengah. Hal ini dicirikan dengan ikutnya presiden kita dalam forum G20 atau kelompok 20 negara ekonomi terkemuka dunia. Demikian pula konsekwensinya adalah jika dulu bantuan internasional PBB untuk Indonesia dikelola penuh oleh PBB, maka dengan status barunya, sesuai dengan deklarasi Paris 2011, maka bantuan PBB harus dikelola secara bersama dan dananyapun harus tercatat di Kementerian keuangan RI. Dengan menjadi negara berpenghasilan menengah, berarti santri hari ini yang akan menjadi aktor di masa depan harus dipersiapkan secara matang untuk melangkah ke tahap berikutnya menjadi negara kaya atau ekonomi besar dunia yang tentunya akan berdampak terhadap da’wah Islam. Hari ini pemerintah kita sedang giat-giatnya mencetak pengusaha karena sebuah negara maju minimal 2% penduduknya berwirausaha. Sementara Indonesia hari ini baru 0,8% penduduknya yang berwirausaha. Tadinya saya tidak tahu persis angka persen untuk Indonesia, saya hanya ingat nol koma sekian, untuk itu terima kasih Mas Imam selaku pengusaha memberitahukan angka persis ini.  Saya yakin kelebihan santri adalah tidak malu menjalankan profesi apapun selagi halal. Dan santri saya yakin sangat berpotensi untuk menjadi pengusaha karena biasanya untuk memulai usaha dibutuhkan pengorbanan, termasuk menghilangkan urat malu hehe.
6.       Unique combination of master degree with religious subject master degree. Melihat para consultant asing di project yang pernah saya tangani mereka selalu mempunya gelar master antara dua hingga tiga bidang. Hal ini patut kita contoh untuk penguasaan utuh akan pengetahuan di dunia modern ini yang sangat semakin erat keterkaitan satu disiplin ilmu dengan disiplin lainnya dalam penerapan di masyarakat.
7.       Khilafah, supremacy of Allah lie in society or khilafah system?. Sebagaimana awal tulisan ini sedikit menyinggung bagaimana system pengelolaan sebuah pemerintah untuk mengelola dunia ini menjadi lebih baik. Saya merasa ketika dipondok dulu kurang terekspose dengan sejarah Islam dan kekhilafahan. Belakangan saya lihat ada dua kutub besar  yang berhadap-hadapan di dunia hari ini. System kapitalis yang diyakini menyusul tumbang setelah komunis dan akan digantikan oleh Islam dengan system Khilafahnya. Phenomena banyaknya orang masuk Islam di negara non-Muslim, bahkan organisasi Islam di USA berani mulai mewacanakan pemberlakuan Syariat Islam. Demikian pula di Eropa yang sudah mulai ketakutan karena lima puluh tahun mendatang akan berpenduduk mayoritas Muslim karena rusaknya institusi rumah-tangga mereka yang mengabaikan perkawinan. Sementara kaum imigran dari negara Muslim paling tidak memiliki dua anak. Banyak pula mu’allaf di negara non-Muslim itu sedang mengalami apa yang pernah di alami oleh para sahabat ketika pase Meka. Mereka harus sholat secara diam-diam dan lain sebagainya. Dengan berbagai phenomena ini, bagaimana kita selaku alumni Krapyak ikut menyikapi, memikirkan dan menyiapkan generasi mendatang yang lebih siap dan relevan?.
8.       Non align to any political parties, ini tentu di luar wewenang kita selaku alumni, namun saya masih berfikir bahwa sebaiknya pondok tetap konsentrasi dalam menyiapkan santri yang dibesarkan dengan tidak memihak dan politik praktis namun tetap mengikuti politik. Kenapa demikian, karena saya berfikiran bahwa santri dan pondok adalah institusi pendidikan. Begitu dia mencetak alumni yang mumpuni ilmunya maka otomatis dia akan mampu menjadi tokoh sentral yang mengayomi.
9.       ICT leterate atau melek tehnologi informasi dan komunikasi. Jika ada sumber yang cukup kita bisa membuat website sendiri untuk mengintenskan interaksi antar alumni baik itu untuk urusan bisnis dan non-bisnis. Bahkan kenapa tidak jika yayasan bisa membuat acara-acara penting live di internet, sehingga berpotensi mengumpulkan kembali alumni yang menghilang. Selagi mereka menggunakan internet tentunya.
10.   Terakhir yang ingin kuklarifikasi adalah soal sukses. Tiap orang punya definisi akan hal ini. Buatku belum sukses jika belum masuk Surga dan bertemu dengan sang Pencipta.
 
Setelah aku bicara, seorang alumni bernama Tobiin ikut bicara di depan. Tidak banyak yang bisa kucatat. Ada dua point penting setidaknya menurutku;

1.       Jangan melihat dia sebagai lulusan yang gagal. Sampai tulisan ini kutulis aku masih belum mengerti makna tersurat dari kalimat yang ia ucapkan berkali-kali ini. Yang jelas teman-teman pada ketawa-ketiwi ketika dia bicara. Bathinku hanya mencoba meraba bahwa ini pasti artinya dalam dan philosofis J
2.       Agar berhati-hati terhadap informasi tentang Islam di internet.
 



Terima kasih atas point ini karena aku jadi teringat suatu hari mendapat email dari teman Arab yang bekerja pada NGO Qatar semasa di Aceh menginformasikan sebuah link informasi Islam yang dikelola oleh Zionis untuk mengaburkan Islam.
Pernah pula UNDP Indonesia menjadi heboh membicarakanku hingga membuat panas beberapa aktivis NGO internasional pro Israel ketika aku meneruskan sebuah pesan email ke ratusan email kontak yang aku punya lengkap dengan gambar yang sangat menyentuh. Ringkasnya, email tersebut menginformasikan beberapa kekejaman Israel; yang kuingat sedikit di antaranya menembak mati wartawan Ingris yang mencoba menghalangi tentara Zionis menembak rakyat Palestina. Ada juta poto seorang wartawati Amerika yang gugur digilas bulldozer Israel hendak menghancurkan rumah anak yatim Palestina. Di akhir kata email itu mengatakan bahwa untuk inilah uang pajak yang kamu bayar dipergunakan. Tentu pesan ini untuk rakyat Amerika Serikat.
Cukup banyak poto dan panjang emailnya. Setelah itu aku dimarahi sama atasanku dan disuruh menghadap big Boss yang berkebangsaan Australia. Kantorku masih di gedung yang berbeda dengan kantor pusat UNDP ketika baru relokasi ke kantor Gubernur Aceh waktu itu. Ketika menaiki tangga menuju sang big Boss, aku membaca ayat Kursi sebanyak yang kubisa J hingga menuju lantai tiga. Begitu di depan ruangan si Boss, dia langsung mengajaku ke ruang meeting dan meninggalkan dua orang tamu bulenya disuruh menunggu. Ternyata tidak seperti yang kuduga, memang sang Boss ini sangat terkenal baiknya. Waktu acara Meugang, tradisi orang Aceh menyambut Ramadhan dan Lebaran dengan potong sapi atau kerbau yang diberikan kepada orang yang tidak mampu, beliau selalu menyumbang satu sapi.
Begitu dipersilahkan duduk, dia tidak langsung menyasarku. Malah ngalor ngidul ngomongi proyek yang sedang kukerjakan dan konsultanku yang baru datang. Maka langsung saja kuingatkan bahwa pertemuan ini untuk membicarakan emailku. Diapun dengan sangat kebapakan memintaku tetap tenang dan bekerja seperti biasa. Jangan sampai perasaan bersalahku membuat kinerjaku menurun. Ditambahkan pula dia menghormati hak politikku dan PBB mengakui itu. Ia sepakat bahwa kesalahanku adalah meneruskan email itu ke semua orang menggunakan email resmiku, email account resmi UNDP. Ini dapat menciderai PBB yang seharusnya netral. Iapun mengingatkan untuk hati-hati menggunakan email resmi ke depannya dan pertemuan tersebut tidak lebih dari lima menit J.
Sekitar dua tahun setelah pertemuan dengan big Boss tersebtu, Oktober 2011, UNESCO mengakui keberadaan negara Palestina. Disamping berkat rahmat Allah, aku fikir tentu juga ridhoNya atas perjuangan gigih para aktivist kemanuasian untuk Palestina termasuk adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang masuk Islam 24 Oktober 2010.

Kesempatan bicara selanjutnya diberikan kepada ibu Ida yang seharusnya pada pembukaan. Dari isi pidato beliau ada beberapa point yang bisa kucatat:
1.       Begitu dekatnya kekeluargaan ini hingga beliau menganggap cucunya setiap anak dari para alumni.
2.       Menginformasikan bahwa Yayasan sedang mengakwisisi sebidang tanah di belakang madrasah yang baru. Tentu ini kesempatan buat alumni untuk amal jariah J
3.       Mendo’akan satu sama lain adalah tradisi pondok Krapyak
4.       Untuk senantiasa menjalin tali silaturrahim, beliau menganjurkan agar alumni mendaptarkan anaknya kembali ke Krapyak.
5.       Usulan meningkatkan skala alumni menjadi lintas generasi, tidak hanya angkatan 1995.
Setelah ibu Ida bicara, pak Jum diminta juga untuk menyampaikan sepatah kata. Berikut yang bisa kusimpulkan:
1.       Pertemuan alumni ini agar ditingkatkan untuk mendorong sinergi bisnis antar alumni
2.       Menginformasikan peningkatan kualitas Bahasa Inggris santri sekarang. Ini terbukti dengan adanya delegasi santri untuk pertukaran pelajar yang ke Jepang, Belanda, dan USA. (Bathinku langsung berdehem, hmm…akhirnya pondoku kebagian juga. Inikan program dunia dalam rangka agar berbagai bangsa dan agama yang mendiami bumi ini lebih saling kenal satu sama lain. Inilah apa yang mereka sebut people to people contact.)
Pak Muslih yang tadinya hanya ingin jadi pendengar dan malu-malu diminta bicara akhirnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang mulia ini. Berikut point yang dapat kutangakap:
1.       Beliau memantapkan diri dengan mengakui sebagai Abdi Dalem
2.       Berkah itu nyata. Terbukti hanya dengan Abdi Dalem semua anak beliau bisa sekolah dan jika dihitung dengan penghasilan beliau tidak masuk akal.
 







No comments:

Post a Comment