Puncak Acara
Ketika pak Hendry Sutopo mulai
berbicara, aku mengagumi pola fikir dan gaya nasehat beliau sejak nyantri dulu.
Ini tidak berarti guruku yang lain tidak kukagumi, tetapi aku mengagumi mereka
dengan kapasitas ilmu dan caranya masing-masing dalam membimbing kami dan
memberi kesan mendalam. Sehingga sering ketika dihadapkan dalam situasi sulit menjalani
kehidupan ini, data tentang nasehat mereka yang relevan tersimpan di kepalaku
muncul dengan sendirinya. Kuperhatikan apakah ada yang mencatat, sebagaimana
kebiasaanku di setiap menghadiri meeting, atau merekam, rupanya tidak
ada.
Kuurungkan niat membawa handycam
karena ketika mau berangkat kemaren kufikir ini sudah beda zamannya, teknologi
ada di mana-mana, pasti ada yang membawa atau panitia mungkin sudah menyiapkan mengingat
moment bersejarah ini. Tanpa kusadari dalam anggaran memang ada untuk CD/DVD.
Maklum saja sudah 18 tahun kami terpisah. Dugaanku salah dan salahku sendiri
kenapa tidak bertanya kepada panitia sebelum berangkat dan mengabaikan prinsip “just
in case” yang selalu kuterapkan dalam bekeraj, ini pulalah penyebabnya,
lagi-lagi komunikasi.
Kulihat ke-sekeliling, hasilnya
nihil, tak ada satupun yang mengabadikan secara rekam video. Mungkin ini karena
magnet dari kekangenan yang luar biasa fikirku. Jadi lupa dah dokumentasinya.
Maka digital cameraku yang sudah penuh dengan photo Yogya dari udara sebelum
mendarat dan perjalanan bersama Nabila ke Condong Catur ku set menjadi merekam
video. Alhamdulillah semua tausiah dari pak Hendry Sutopo terekam semua. Jadi
tidak perlu kuceritakan lagi di sini, insyaAllah videonya akan ku share.
Dan tentu karena isi pembicaraannya ada yang sangat cocok dengan situasiku,
insyaAllah akan ku-share kepadanya yang di ujung Sumatra. Lagi-lagi ini
salah satu hikmah silaturrahim ini hehe.
Pembicara berikutnya pak Asyhari
Abta. Sayang sekali memori digital
cameraku hanya mampu merekam sepanjang 1.32 menit, memory extraku ketinggalan
pulak!. Dengan sangat menyesal karena tidak membawa laptopku dari penginapan
agar bisa memindahkan photo dan rekaman tersebut. Maka akupun beralih ke tab
untuk mencatat. Berikut beberapa point yang sempat kutangkap dari tausiahnya:
Santri Krapyak beda dengan santri
lain, santri lain biasanya selalu pengen ngimami. Sementara santri Krapyak
tidak mau ngimami kenapa?. Semua hadirin terdiam, mungkin mencari jawaban yang
paling tepat. Belum sempat ada yang menjawab, pak Asyahari langsung jawab sendiri.
“orak ono makmume!” semua jadi terpingkal-pingkal J. Mohon maaf hanya ini yang
bisa kucatat dari pembicaraan pak Asyhari karena sejak pembicaraan beliau dari
awal, aku masih terpesona dengan suasana majlis ini. Aku baru sadar harus
mendokumentasikan kembali begitu pak Asyhari selesai bicara dan point inilah
yang aku ingat.
Pembicara berikutnya adalah pak
Ihsan. Berikut point yang dapat kucatat dan kucerna dari tausiahnya:
- Semoga kegiatan ini membawa keberkahan di dunia, bagi agama dan akherat kelak.
- Beliau salut atas kekompakan angakatan 1995, dan kesuksesan para alumni atas bidang masing-masing. Hingga beliau berkata ketika mengajar kami yang masih polos dan ada yang nakal-nakal dahulu sungguh beliau tidak pernah berharap kami akan menjadi seperti kami hari ini.
- Topik beliau berikutnya, rupanya beliau sudah membuat list para muridnya lengkap dengan profesi masing-masing. Beliau menyebut namaku yang paling pertama serta menyebutkan profesiku sebagai penghubung luar negeri yang perlu ku-klarifikasi bekerja pada Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations/UN. Beliaupun menambahkan bahwa sebegitu sibuknya aku mengurus dan memikirkan duni dan Negara ini sampai-sampai aku menunda pernikahan yang disambut tepuk tangan dan ketawa oleh rekan-rekan yang hadir. Selanjutnya beliau menimpali dengan mengataka atau aku belum nikah bisa jadi karena tidak laku-laku J. Suasanapun menjadi gemuruh dengan ketawa teman-temanku. Sambil ikut ketawa bathinku berkata, hmmm tunggu ya novelku terbit dengan berbagai kisah perjalanan hidupku mendekati cewek mancanegara dan beberapa daerah di Indonesia J. Pernah seorang staff NGO dari Qatar berkebangasaan Tunisia menawariku tuk menikah dengan anaknya, dasar belum jodoh, anaknya tidak mau ke Indonesia haha. Novelnya belum pernah kutulis sih, tapi ada niat dan bahan-bahannya sudah kukumpulkan dikit-dikit hehe.
- Orang kedua yang beliau sebut lagi adalah Agus Budi Susilo yang sudah menjadi hakim pengadilan negeri. Lalu Muhibuddin yang menjadi hakim pada pengadilan Agama yang sayangnya tidak hadir. Kemudian menyebutkan Eko yang menjadi pengacara dan Amin dan Prihantono dan lain-lain yang sudah menjadi dosen dan guru. Mas Imam yang sukses dengan usaha Mie Batoknya sudah tampil di ANTV karena keberhasilan businessnya. Lalu satu persatu profesi saudara-saudaraku yang lain yang tidak sempat kucatat.
Untuk profesiku sebetulnya ingin
ku perjelas. Karena bekerja pada lembaga internasional apapun tidak ada yang
permanen, semua berdasarkan kontrak. Akupun tidak tau bekerja pada lembaga apa
ketika ada lagi reunian nanti di tahun 2017 karena program di mana aku bekerja
sekarang di bawah MoU antara Pemerintah RI dan PBB hingga 2015. Aku merasa
beliau telah berlebihan memujiku dan teman-teman yang hadirpun sudah pada
bertepuk tangan, apa boleh buat dalam hatiku, semoga ini menjadi do’a. Saat
bersamaan aku sedang menunggu “surat tidak keberatan/no objection letter” dari
Kementerian Luar Negeri sebagai syarat melamar sebuah posisi di Organisation
of Islamic Cooperation (OKI) di Jeddah – Arab Saudi. Aku ingin mencoba
mengabdi langsung untuk pembangunan Ummat melalui lembaga ini kendati masih
ragu dengan kemampuan bahasa Arabku, aku akan tetap mencoba sebagai tambahan
pengetahuan. Dungo’ke yo teman-teman :)
Pernah kubaca sebuah buku diawal
kuliah dulu membahas gelombang peradaban. Dijelaskan semakin modern peradaban
semakin spesifik pekerjaan, sehingga semua berdasarkan kontrak. Manusiapun
sangat mobile berpindah dari sudut bumi yang satu ke sudut bumi yang lain
dengan mudahnya. Phenomena inipun kubuktikan sendiri ketika mengurus
event-event internasional maupun ketika aku bekerja mendampingi para konsultan
asing untuk projek-projek yang pernah kutangani selama di Aceh maupun di
Palangka Raya. Sering aku membaca CV para tamu pejabat Negara asing yang datang
dan para consultant tersebut, semuanya tidak ada yang tetap di satu lembaga
maupun negara. Mereka loncat-loncat dari satu lembaga ke lembaga lain dalam
kurun waktu berkisar antara satu hingga lima tahun, namun keahliannya tetap
sebagai professional bidangnya. Dalam
kesempatan ini ingin kusampaikan secara singkat ke mana saja aku menghilang
selama
Setelah lulus dari Krapyak,
niatku masuk IAIN SUKA kandas karena tidak lolos. Ketika itu bersama Andy
Bakhtiar serasa luntang-lantung pada hari 17 Agustus tidak tahu harus berbuat
apa karena merasa bukan bagian dari apa-apa lagi, bukan santri pondok, bahkan
bukan pulan rakyat Indonesia karena tidak mengikuti 17an. Sementara satu-persatu
teman-teman yang lain mulai menyebar ke kampus di mana dia diterima atau
menghilang entah ke mana. Demikian pula hasil internview calon penerima
beasiswa ke Mesir di IAIN Semarang kandas. Semua temanku dari Krapyak yang ikut
ke semarang dan menginap di rumah Ali Subur ketika itu gagal semua. Seingatku
yang berangkat ke Semarang waktu itu, aku, Kholilurrahman, Muhibuddin, Azmi
Ihsan dan siapa lagi ya?. Maaf aku lupa. Kalo ada yang tau atau yang membaca
merupakan salah satunya, tolong tambahin ya hehe.
Suasana registrasi ulang sebelum memulai acara puncak
Karena semuanya gagal, aku telpon
nenek di Jakarta dan beliau memintaku ke Jakarta. Sampai di Jakarta aku fikir
tempat tinggal sudah gratis sama nenek, mau minta biaya kuliah sama nenek atau para
omku kayaknya ngak deh. Biaya kuliah dari Bak belum kunjung dikirim. Ada
tawaran dari nenek untuk ikut kerabat Datuk yang sudah menjadi warga Mekah yang
kebetulan ada di Jakarta waktu itu. Namanya Datuk Ali Jambi yang mempunyai toko
di belakang Hotel Hana’ dekat ka’bah. Menjelang musim haji beliau selalu ke
Jakarta untuk belanja pernak pernik haji di Tanah Abang untuk dibawak ke Mekah
dan lucunya pasti diburu jamaah haji Indonesia! :).
Cerita menarik tentang Datuk Ali
Jambi ini beliau punya kebiasaan menaruh ikan asin dalam kopernya. Sehingga
ketika diperiksa oleh petugas imigrasi di Jeddah, petugas akan mencium bau ikan
asin, maka kopernya langsung disingkirkan tanpa diperiksa lebih lanjut hahah
ide cerdas!.
Berikutnya adalah ketika aku
mengadakan pendekatan terhadap cewek putih yang kukenal bermuka Arab-Indo yang
ada dikampusku yang ber-ibu asli Mesir dan ber-ayahkan Betawi. Suatu malam aku
main ke rumahnya dan bercengkerama dengan mamanya yang sudah seperti Makku
sendiri, tidak sengaja aku membicarakan tentang Datuk Ali Jambi. Rupanya
almarhum ayah cewek yang sedang kudekati itu adalah teman Datuk Ali Jambi
ketika sama-sama merantau ke Timur Tengah. Ayahnya meneruskan belajar di
Al-Azhar Qairo hingga beliau menjadi Kyai terkenal di Kalangan Betawi Jakarta
dan menjadi petinggi di MUI Jakarta pada bagian perizinan makanan halal.
Sementara Datuk Ali Jambi malah berdagang di dekat ka’bah hingga dia berhasil
mempunyai toko di belakang hotel Han’a tersebut. (almarhum ayah cewek tersebut
meninggal sebulan setelah aku mengenalnya, karena aku baru sekali ketemu di
kampus dan setelah itu tidak pernah ketemu, sehingga ketika ayahnya meninggal
aku tidak ta’ziah pada tahun 1999 dan Datuk Ali Jambi meninggal tahun 2001).
Mengetahui Datuk Ali Jambi
seorang pedagang, maka tawaran nenek ku tolak (bocah ngak tau bersyukur ye).
Karena kufikir Datuk Ali Jambi seorang pedagang, pastilah awak disuruh
jaga toko nantinya, sementara awak datang ke Jakarta mau belajar heheh.
Karena tidak ada kepastian biaya
kuliah, kuisi kegiatan dengan mendaftar sebagai peserta Studi Dasar Terpadu
Nilai-nilai Islam di Remaja Islam Sunda Kelapa atau lebih dikenal RISKA (RISKA
pada waktu itu menjadi barometer remaja masjid di Indonesia karena misinya yang
ingin membalikan image islam yang terbelakang, kumuh dan tidak modis)
yang berjarak hanya tujuh rumah dari rumah neneku. Di sini pula aku mulai
ikutan shooting acara Hikmah Fajar RCTI ketika RISKA mendapatkan tawaran untuk
menjadi audience.
Rofik dukun sempat kirim surat
kalau tidak salah waktu itu bilang kalau bicara mikenya jangan dimakan.
Demikian pula Bak kirim surat yang menceritakan orang kampung melihatku di TV
saat acara Hikmah Fajar. Saat itulah aku merasa niat kuliahku yang tertunda
mulai terobati. Disamping itu kuisi dengan mengambil kursus bahasa Inggris di
EIC dekat stasiun Gambir hanya bertahan
selama tiga bulan karena aku merasa tidak ada perkembangan, aku merasa lebih
berkembang jika banyak membaca materi dalam bahasa inggris dan praktek
langsung. Karena kursus sore, akupun ingin bekerja dipagi hari, sekedar lulusan
tingkat menengah pekerjaan paling pol di ibu kota adalah menjadi sales. Toh
kanjeng Nabi juga seorang pedagang fikirku. Pekerjaan inipun kujalani dengan
menjadi penjual produk-produk aneh dari Cina, mulai dari obeng yang mutarnya lebih mudah
hingga cukur jenggot yang berbateray. Pekerjaan inipun hanya bertahan selama
tiga bulan, karena kepolosanku, aku ditipu oleh petugas penyerahan barang/consginee
untuk kujajajkan keliling Jakarta. Setelah kubuka kardusnya itemnya kurang lima
buah, sementara aku sudah tanda tangan dengan isi kardus yang lengkap. Maka
setelah melunasi barang yang digelapkan itu, akupun memutuskan keluar.
Berkat keaktifanku di RISKA aku
mempunya banyak teman. suatu hari diawal tahun 1996 ketika sedang bercengkerama
di RISKA, seorang temanku sedang membaca Koran REPUBLIKA memanggilku dengan
antusias. Dia menunjukkan kepadaku sebuah iklan kampus yang cukup bombastis!.
Bagi yang berwawasan internasional, tes masuknya diskusi panel dengan bahasa
Inggris dan baca Quran. Bahasa pengantar kuliah Inggris, mahasiswa diwajibkan
mengambil mata kuliah tambahan minimal dua bahasa asing selain Inggris. Akupun
yakin akan Inggrisku yang sudah jalan dan Arabku yang tinggal dipoles bisalah
untuk komunikasi, maka tanpa fikir panjang akupun melupakan lima formulir dari
lima kampus yang sudah kukumpulkan. Setelah melihat rata-rata teman di RISKA
selalu membicarakan business dan ada yang kuliah tasnya berisi barang dagangan,
sementara aku akan hidup dengan apa di kota metropolitan ini?. Mengingat untuk
agama aku sudah tau siapa Tuhanku dan mengapa dan untuk apa aku ada di dunia
ini. Maka kuputuskan mengambil kuliah Ekonomi – manjemen.
Segera kutindak lanjuti iklan
tersebut. Hasil dari interview panel seleksi mahasiswa, aku mendapatkan posisi
kedua penerima beasiswa alias bebas biaya kuliah sebesar 75%. Alhamdulillah
setelah menghubungi Bak langsung kirim uang dan akupun tercatat sebagai
Mahasiswa STIE TRIANANDRA di Pondok Bambu-Jakarta Timur. Aku tidak peduli
kampusnya kecil dan tidak terkenal, yang penting bisa kuliah dan ada dosen
bulenya dan yang terpenting semangat belajarku. Untuk Internasional Business
ada dosen dari Belanda. Untuk Bahasa Belanda dan Peranci yang kuambil dosennya
dari kedutaan Belanda. Untuk pemantapan bahasa Inggris ada sepasang dosen suami
istri dari Australia. Bahasa Jepang juga tidak kalah okenya. sayang ketika
kerusuhan 1998, semua dosen asing ini pergi tanpa kembali.
Selama kuliah aku tetap aktif di
RISKA sekaligus sebagai tempat nongkrong pulang kuliah, toh cuma jalan kaki
dari rumah. Sempat selama tiga bulan nyambi menjadi marketing developer Lipo
Karawaci. Karena kemampuan Inggrisku, supervisor memberiku sebuah daftar orang
asing yang ada di Jakarta untuk kutelpon menawarkan rumah dan kondominium
Matahari di Lipo Karawaci. Kemampuan cas cis cusku terbukti berhasil
menjual sebuah unit di kondominum tersebut ke pengusaha Korea. Lumayan lah buat
tambahan uang kuliah. Begitu diakhir semester dua, Bak kuminta stop mengirimiku
uang, karena aku ingin beliau konsentrasi membiayai adik laki-lakiku yang cukup
berpeluang untuk maju.
Suatu malam sekitar jam 9, diawal
tahun 1998 nenekku memanggil dan mengatakan ada telpon dari RISKA. Begitu
kuangkat Setiawan sang Sekretaris Umum RISKA menjelaskan dia menelpon karena ada
senior dari HMI datang ke RISKA mencari calon temannya untuk menghadiri
Konferensi Pemuda di Ethiopia. Syaratnya orang tua mengizinkan dan bersedia
menyiapkan uang saku sebesar US$ 600-1,000. Rupiah sedang terjun bebas dari
2,500/US$ ke 12,000/US$ waktu itu. Setiawan merasa aku cocok untuk ikut seleksi
ini. Diapun menambahkan agar aku menyiapkan CV bebahasa Ingris sebagaimana yang
diminta.
Malam itu juga hingga jam 1 malam
kuketik CVku yang pertama satu-satunya dalam bahasa Inggris menggunakan mesin
ketik om Naser dan hingga sekarang aku tidak pernah memiliki CV berbahasa
Indonesia. Benar saja, keesokannya satu jam menjelang interview di sekretariat RISKA,
tujuh teman-temanku sesama anggota RISKA dari tujuh kampus terkemuka di Jakarta
yang ikut interview, belum ada satupun yang memiliki CV, akhirnya kupinjamkan
CV-ku buat mereka contek formatnya!. Amal…amal…hehe.
Aku sudah melupakan interview
tersebut dan beberapa bulan kemudian kerusuhan Mei 1998 pun terjadi. Aku ikut
rombangan kampusku menduduki DPR hingga Soeharto turun tahta. Sayangnya ketika
Soeharto berpidato pengunduran dirinya, aku sedang pulang ke rumah, jadi tidak
ada teman seperjuangan untuk melampiaskan kegembiraanku. Segera kuambil jaket
almamater dan kembali lagi ke gedung DPR untuk bergabung dengan teman kampusku,
sayangnya mahasiswa sudah terpecah dua begitu Soeharto tumbang. Satu pihak
mendukung Habibie sebagai presiden dan di pihak lain menolaknya. Karena takut
terjadi bentrokan antar mahasiswa, maka sekitar jam dua malam rombongan kampusku
memutuskan untuk menarik diri dari gedung DPR.
Sekitar bulan Juni aku dipanggil
bang Ivanul Furkhan selaku Ketua Umum RISKA. Saat itu aku sedang menjabat ketua
Unit Bahasa RISKA dengan menyelenggarakan club bahasa Inggris dan Arab. Sambil
menyalamiku dia mengucapkan selamat karena aku terpilih menjadi perwakilan
Indonesia untuk menghadiri the 2nd Global Youth Conference for
the End of World Hunger di Addis-Ababa, Ehtiopia yang dimotori teman-teman
Jepang. Tidak terbayang ketika ngaji madrasah sore di kampung sewaktu kecil
dulu guruku berceita tentang tujuan hijrah pertama umat Islam. Sekarang
insyaAllah aku akan mengunjunginya.
Belakangan aku baru mengetahui abang
senior di HMI ini pernah menjadi tenaga Sukarelawan PBB di India dan berkenalan
dengan lembaga dari Jepang yang disebut Youth Ending Hunger (YEH) sekitar tahun
1991 di India. Begitu dia selesai dari India dia dikontak lembaga Jepang
tersebut untuk menjadi afiliasi lembaga ini di Indonesia dan diundang
menghadiri pertemuan pertamanya di Kyoto-Jepang. Waktu itu dia mengajak dua
anak pejabat tinggi negeri ini. Demikian pula pada tahun 1995 YEH mengadakan
konferensi di UNICEF house New York, lagi-lagi abang senior HMI ini mengajak
dua orang anak pejabat tinggi yang lain, mungkin sebagai loby biar organisasi
cepat berkembang namun kenyataannya setiap pulang konferensi, sepertinya sang
anak-anak pejabat itu tenggelam dengan jabatan ayahnya kali ya heheh. Maka
abang senior HMI tersebut disarankan oleh temannya untuk mencari activist.
Sasaranya waktu itu menelpon Remaja Masjid Pondok Inda, Remaja Masjid Al-azhar
dan yang nyambung hanya Remaja Masjid Sunda Kelapa Menteng.
Segera kuberitahu Mak dan Bak
melalui surat dan tante Idawati sebagai tante andalan ketika menemui kesulitan.
Aku jelaskan membutuhkan tambahan uang saku, alhamdulillah dengan entengnya
tante Idawati bilang kebetulan dia baru pulang Umroh dan masih ada beberapa
Real dan Dolar sisanya. Sehari kemudian nenek memintaku menukarkan beberapa
lembar dolar pecahan US$ 100 dan sepulangnya dari bank Mandiri Imam Bonjol aku
diberi nenek sebanyak US$ 400. Alhamdulillah…
Wah tinggal beberapa ratus dolar
lagi neh. Maklum bersama teman seniorku dari HMI tersebut kami coba loby
teman-teman Jepang agar penerbangan Singapore Airline ke Ethiopia yang semula transit
di Dubai dibelokkan menjadi transit di Jeddah karena kami akan melakukan Umroh
yang sangat penting untuk keyakinan agama kami dan membuat kami tambah semangat
untuk menghadiri acara di Ethiopia. Si Jepangpun setuju. Maka mau tidak mau aku
harus mengusahakan uang tambahan untuk Umroh. Siapakah sasaran fundingku
berikutnya? Otakku berkeliling dari satu kegiatan ke satu kegiatan yang pernah
kuikuti.
Sasaranku pertama adalah melapor
ke bang Faisal Motik, adiknya Dewi Motik selaku pesohor RISKA jadul yang
rumahnya berjarak satu rumah dari Masjid Sunda Kelapa. Ku laporkan ke dia bahwa
aku terpilih untuk ke Ethiopia. Akupun minta nasehatnya, mengingat aku punya
kesan ketika zaman Soeharto, activist yang dekat dengan asing dan berbahasa Inggris
selalu dituduh PKI. Dengan gayanya yang khas sambil menyulut rokok dia berkata
“lo harus berangkat ke Ethiopia, biar lo tau kalo Soeharto itu cuma sebutir
pasir di antara Pyramid Mesir” dengan senyumnya yang khas. Ketokohan bang
Faisal Motik ini kukagumi karena pola fikirnya yang bertema high politik dengan
capital “P” demikian istilah beliau. Di antara kata bijaknya yang aku ingat
hingga sekarang adalah “lo harus belajar dari semua guru biar lo tambah bijak
dan mampu melihat dari berbagai sudut pandang”, “Sunda kelapa itu masjid orang
Islam tuk rahmatan lil alamin, tidak muhammadiya, tidak pula NU, semua orang
Islam bole beraktifitas di situ”. “Bangsa lo ini besar, maka lo harus terlatih
untuk duduk bersama dengan yang beragama lain kalo lo mau jadi pemimpin”.
Setelah berbincang dan
mendapatkan nasehat yang memantapkan niatku, akupun pamit tapi bang Ical,
demikian panggilan akarabnya di kalangan anggota junior RISKA, memanggilku tuk
kembali kepadanya. Sambil mengeluarkan dompet dan menghitung beberapa lembar
uang pecahan US$ 100 yang entah berapa jumlahnya, yang jelas cukup tebal. Dia
keluarkan semua dan menghitung lembarannya satu persatu. Belum selesai dia
menghitung, dia ambil satu lembar dan menyodorkan kepadaku sambil berujar “buat
lo satu aja!” sambil ketawa besar khas Palembangnya. Dengan cengengesan dan
ketawa atas kelucuan bang Ical akupun berterima kasih dan pamitan.
Alhamdulillah kayaknya jadi neh umroh waktu transit di Jeddah heheh.
Bermodalkan surat penunjukanku
sebagai peserta terpilih untuk mewakili Indonesia di Ethiopia, ku coba buat
proposal kecil-kecilan. Sasaranku kali ini adalah Nahla Club. Aku mengenal
perkumpulan ini ketika menjabat sebagai ketua Unit Bahasa RISKA. Ketika kuminta
nasehat bagaimana mendapatkan guru bahasa Ingris native yang Muslim ke bang
Adi Warman Karim, alumni RISKA yang sekarang menjadi tokoh perbankan Syariah
dan mendirikan perusahaan konsultasi business Islami menyarankanku mengikuti
sholat Jumat di menara BRI. Di sana ada perkunpulan bernama Nahla Club yang merupakan perkumpulan
eksekutif Muslim di Jakarta yang memberi wadah bagi orang asing yang muslim di
Jakarta menyalurkan potensinya membangun ummat. Khotbahnya berbahasa Inggris
dengan menghadirkan khotib-khotib dari tokoh-tokoh nasional dan internasional.
Maka kuluangkan waktu mencari di
mana keberadaan Nahla Club yang sudah lama tidak kuikut sholat jumatnya.
Berdasarkan penelusuranku Nahla Club sudah berpindah ke Menara Saidah di Jl.
Gatot Subroto. Ketika itu ketuanya adalah seorang pengusaha muslim sukses
dengan ekpor comoditas ke Afrika. Karena tidak berhasil bertemu beliau,
kutitipkan proposalku kepada sekretarisnya. Beberapa hari kemudian kutemui
sekretarisnya dan memberikanku sebuah amplop, saat kubuka, alhamdulillah beliau
memberiku US$ 100. Hingga tulisan ini kubuat, aku belum bisa menemukan beliau,
suatu saat ingin kutelusuri dan bersilaturrahim dengan beliau. Maka rasanya
sekarang kufikir sudah cukuplah uang sakuku untuk Umroh.
Konferensi di Ethiopia diadakan
di gedung Economic Cooperation for Africa atau dikenal dengan ECA
building. Di sini pulalah aku mulai bersentuhan dengan dunia PBB, karena
saat tour bangunan, kami di bawa ke sebuah ruangan di mana petinggi
dunia rapat dan ruangan conferensinyapun berlatar belakang logo PBB.
Sepulang dari Ethiopia agendanya
adalah Umroh. Waktu pergi kami hanya transit di Jeddah, sepulangnya barulah
kami siapkan untuk Umroh. Sewaktu meninggalkan tanah air, Datuk Ali Jambi
kebetulah di Jakarta dan memberiku kartu nama alamat rumahnya di Mekah.
Demikian pula nenek memintaku menemui bang Sarbini yang bekerja di KBRI Arab
Saudi.
Begitu sampai di asrama haji
Jeddah kami segera istirahat dan satu jam kemudian petugas asrama datang ke
kamar memperkenalkan diri bernama Sarbini. Dia meminta passportku untuk
dipotocopy. Aku tidak menanyainya karena nenek bilang bang Sarbini kerja di
KBRI, sementara ini Asrama haji fikirku. Setelah selesai fotocopy rupanya dia
membaca dataku di passport.
“Ahyoni lahir di Jambi ya?”
tanyanya. “Iya bang” jawabku. “Mertua saya orang Jambi” katanya. Sambil mengeluarkan
kartu nama Datuk Ali Jambi aku berkata “Saudara Datuk saya, Datuk Ali Jambi
sedang di Jakarta sewaktu saya mau berangkat memberikan kartu namanya dan
meminta saya untuk bertandang kerumahnya”. Dia langsung membaca kartu nama
tersebut dan langsung teriak “Itukan mertua saya!”.
Berkat silaturrahim ini maka
penuhlah kulkas dikamarku dengan berbagai botol jus dan kurma segar berwarna
kuning. Ke mana-mana dijamunya dengan transport KBRI. Teman seniorkupun bertemu
dengan temannya dan ikut mengantar ke Bandara setelah umroh, eh begitu dalam
perjalanan ke bandara, aku teringat kameraku ketinggalan. Bang Sarbini langsung
putar balik begitu kami diturunkan di parkir bandara. Begitu kami sampai di check
in petugas memberitahukan bahwa pesawatnya sudah berangkat dan kami bisa
ikut pesawat keesokannya. Ketika bang Sarbini datang dengan terburu-buru
memberikan kameraku, dia kebingungan melihat kami malah menuju mobil.
Alhamdulillah jadi dua kali dapat Umrohnya J
dan kali yang kedua inilah aku baru bisa cium hajar aswad.
Sesuai komitmen yang disepakati
di Adis Ababa semua Negara mengadakan konferensi tingkat nasional di negara
masing-masing. Sekitar Januari 1999 teman senior HMI yang bersamaku ke Ethiopia
menelpon untuk membicarakan penyelenggaraan konferensi nasional Pemuda
Pemberantas Kemiskianan pertama di Indonesia.
Sepulang dari Ethiopia aku selalu
cerita dengan antusias kepada siapapun temanku di RISKA, maka ketika aku
membutuhkan pasukan untuk mengadakan perhelatan akbar tersebut, hampir delapan
puluh persen “tokoh-tokoh” penting dan activist di RISKA ikut membantuku,
hingga sempat terdengar isu miring di RISKA yang mengatakan aku besar karena
RISKA dan sekarang menjauhi RISKA. Padahal tidak demikian adanya. Demikian pula
dari kampusku ada empat orang teman yang ikut membantuku. Termasuk cewek
Arab-Indo yang kutaksirJ.
Untuk menyelenggarakan event akbar tersebut, aku dinobatkan sebagai Chairperson
1st National Youth Conference for The End of World Hunger in
Indonesia sekaligus menjadi Chairperson National Student Committee di
bawah Yayasan Empathi Hidup Indonesia (YEH-Indonesia).
Akupun baru tau setelah senior HMI
yang membawaku ke Ethiopia cerita, rupanya YEH-Indonesia sudah berdiri secara
resmi sejak tahun 1995. Nama asli lembaga ini dari Jepang awalnya Youth
Ending Hunger (YEH), namun ketika dibawa ke kementerian yang menangani
pendaftaran Yayasan, pemerintah Indonesia yang masih dikuasai rezim Orde Baru
ketika itu keberatan dengan kata “Hunger” atau “Kelaparan” dalam nama tersebut.
Karena mereka malu dan mengatakan tidak ada orang lapar di Indonesia. Maka
digantilah dengan nama versi Indonesia menjadi Yayasan Empati Hidup
(YEH-Indonesia).
Alhamdulillah berkat dukungan
teman-teman, konferensi kami yang pertama pada 13-15 Mei 1999 menuai sukses
besar. Kendati sempat dituduh peserta rekan-rekan mahasiswa aku mendapatkan
dana dari Golkar. Acara diliput berbagai Stasiun TV dan Koran terkemuka. Pak
Mar’i Muhammad selaku ketua PMI dan perwakilan Kementerian Sosial hadir membuka
acara, demikian pula Country Direktor UNICEF yang membawahi Indonesia-Malaysia
ikut hadir membuka sebagai donor konferensi yang kukenal baik sebagai bule
mu’allaf beristrikan orang Minang. Hingga tulisan ini dibuat akupun belum
berhasil mencari beliau. Karna banyak informasi di internet hanya seputar
beliau menjabat di Indonesia, tidak setelah beliau pindah ke Eropa. Semoga ada
yang membaca tulisan ini mengetahui keberadaan beliau ya heheh J. Konferensi pertama
ini juga dihadiri kurang lebih lima
puluh perwakilan kampus-kampus di Jakarta dan tiga belas Provinsi. Demikian
pula perwakilan teman dari Jepang ikut menyaksikan kesuksesannya.
Karena keberhasilan konferensi
tersebut, teman-teman Jepang mengundangku untuk menghadiri 2nd
World Leader Meeting YEH di Jepang pada tangal 14-18 Agustus 2000. Di
pertemuan ini aku baru mengethaui bahwa Indonesia sebagai negara pertama yang
menyelenggarakan konferensi nasional selain Jepang.
Sekitar kurun waktu 1998-2002
kujalani kehidupan aktivistku antara YEH-Indonesia dan RISKA sambil kuliah.
Sempat aku bekerja pada sebuah lembaga internasional yang merupakan gabungan
media di Eropa di bawah Le Monde Prancis. Tugasku ketika itu adalah menghubungi
para petinggi daerah untuk mengetahui dan mendata kebutuhan investasi daerah
dalam pembangunan infrastruktur. Informasi
ini kemudian dipublikasikan di Eropa untuk menarik minat para investor Eropa.
Hanya sebulan aku bekerja di sini karena terjadi salah faham dengan bossku orang
Yunani yang selalu temperamen tinggi.
Belakangan kuketahui dari cerita
dosenku dari Australia yang menghubungkanku dengan lembaga ini cerita bahwa si
boss Yunani ini memang sombong, misalnya ketika mereka ketemu di Bandara Cangi
Singapor mendapatinya teriak-teriak di antara atrean orang banyak. Berbeda
dengan rekannya Tommy yang berkebangsaan Perancis cukup tenang dan
mengingatkanku mengambil sajadah ketika berpamitan selesai bekerja dengan
mereka. Yang perlu ku syukuri adalah tiga bulan setelah berhenti dari lembaga
ini, hotel JW Marriot di mana lembaga ini berkantor diserang bom teroris. Sempat
pula di masa ini, atas dorongan teman-teman aku diminta ikut mencalonkan diri
dalam bursa calon ketua Umum RISKA. Mungkin karna sudah banyak aktif di luar
dan RISKA sudah mulai dikuasai mayoritas anak-anak PKS, maka flatform Islam
rahmatan lil alamiin yang kuangkat kalah. Aku diserang dengan berbahayanya ide pluralisme
yang aku lihat mereka terlalu sempit menterjemahkannya.
Karena sudah cukup lama kuliah
kombinasi aktif di luar kampus dengan YEH-Indonesia, RISKA dan tekadang ikut
Reboan HMI yang berdekatan dengan RISKA. Akupun tidak ingin tanggung-tanggung,
maka ketika menulis skripsi, kutulis skripsiku dalam bahasa Inggris. Kebetulan
ketika sedang mencari data di perpustakaan Bank Dunia aku berkenalan dengan
seorang mahasiswa Swedia bernama Carl Barneco yang mendapat beasiswa untuk
menulis skripsi tentang dampak krisis Asia di empat negara. Dia berbasis di
Indonesia karena Indonesia paling parah katanya. Dari perkenalan ini, kamipun
menjadi teman selama menulis skripsi dan saling membantu mencari data. Aku
merasa sangat terbantu karena dia memberiku CD dari profesornya yang berisi
data ekonomi hampir semua negara di dunia yang dimiliki oleh IMF. Ini sangat
mendukung skripsiku yang berjudul “The Influential Factor on Indonesia’s Export
Volute to Germany; 1990-2000”. Dia kukenalkan ke keluarga nenekku, lebaran Idul
Adha ku ajak ke rumah dan Sholat idul Adha!. Padahal dia bukan Muslim tapi
karena keingintahuannya kuajak saja dia sholat di Masjid Sunda Kelapa. Waktu
berdiri dan takbiratul ihram dia ikut, demikian pula ruku’ dan sujud, begitu
duduk antara dua sujud dia tidak bisa lalu dia coba untuk jongkok, akupun mulai
tidak khusu’ karena melihat tingkahnya. Eh malah dia berdiri dan memotret orang
sholat hingga sholat selesai J.
Seusai sholat kuajak dia ke rumah om Yari yang potong sapi ketika itu.
Skripsi kamipun selesai bersamaan
dan tinggal menunggu sidang. Maka waktu luang ini kami manfaatkan untuk liburan.
Pilihan kami liburan ke Bandung dan Yogyakarta bersamaan dan dari Jogja Carl
melanjutkan ke Bali dan aku kembali ke Jakarta. Sewaktu di Yogyakarta, sebagai
mahasiswa perantauan, untuk menghemat maka pilihannya menginap di rumah saudara
di Condong Catur. Setelah main ke Borobudur dan beberapa obyek wisata, kuajak
Carl mengunjungi sekolahku dulu alias MA Ali Maksum. Argumentku adalah untuk
memovitasi adik kelas dan memberi kesempatan kepada Carl untuk melihat
pendidikan Islam dari dekat.
Dari ceritaku tentang kehidupan
Pondok Carl tertarik ingin membeli sarung, sekalian akan ia pakai ketika di
bali nanti katanya. Malam sebelum kunjungan ke Krapyak kami main ke Malioboro
dan mampir ke Al-Fath untuk membeli sarung. Setelah dari Al-fath kami nongkrong
sebentar sambil menikmati minuman ringan di kaki lima. Carl memesan Bir
Bintang, aku Coca-Cola sudah cukup hehe. Tiba-tiba ada orang mengajakku bicara
dengan marah-marah, dengan bahasa Jawa yang kurang kumengerti dia teriak-teriak
kepadaku. Merasa tidak bersalah, aku naik pitam dan berkata dengan keras
“Jangan macam-macam ya, saya lulusan Krapyak sini!” sambil menunjuk ke arah
Krapyak. rupanya kata “jangan
macam-macam” adalah kata paling sensitive baginya. Dia mendekat dan mau
menyerangku, alhamdulillah ada yang menariknya mundur dan minta maaf kepadaku
sambil menjelaskan bahwa itu orang MABOK!
Demikian pula cerita kesalahfahaman
terjadi sewaktu di Jakarta menjelang berangkat ke Yogya. Aku menemui Carl di
penginapannya di daerah Kebon Sirih. Carl memintaku masuk ke kamarnya karena
ada beberapa barang dan buku yang ingin dia berikan kepadaku mengingat setelah
liburan dia langsung balik ke Swedia. Saat di kamarnya inilah sang empunya
penginapan melihatku dan dengan kasar menanyai siapa aku. Kuberitahu bahwa aku
temannya Carl, dengan sombongnya dia berkata “Whatever!” sambil berlalu. Carl
menanyaiku apa yang terjadi, maka Carlpun protes atas perlakuannya kepadaku
karena di depan tadi kami sudah izin petugas.
Sambil menunggu taxi kami duduk
di depan penginapan. Kami mengobrol dengan tamu bule yang lain, dan terlibat
diskusi panjang dengan seorang Inggris yang mengaku menjadi guru Bahasa Inggris
karyawan TVRI. Melihat kami akrab
mengobrol, sang empunya penginapan akhirnya ikut mendengarkan. Semula si bule
Inggris mengira kami adalah pasangan homo. Ketika ditanya asalnya di Inggris
dengan tidak PD dia mengatakan hanya berasal dari kota kecil dan menambahkan
bahwa di Inggris ada kota khusus kebanyakan homo dan kami bisa pergi ke sana
karena di sana homo bebas. Aku cuwek dan Carlpun seperti tidak mengetahui ke
mana arah omongan si Inggris. Ketika ditanya apa dia senang tinggal di
Indonesia, dengan antusias bilang sangat senang, apalagi banyak PSK yang
membuat dia gampang “jajan” di mana-mana.
Di saat bersamaan sang empunya
penginapan memanggil pedagang makanan yang lewat dan menawarkan kami kopi
sambil berlalu menemui pedangan. Si Inggris langsung menambahkan yang membuat dia
senang juga karna orang Indonesia ramah sebagaimana si empunya penginapan yang
menawarkan kopi. Si empunya penginapan gabung kembali ketika Carl mencontohkan
aku yang sering puasa senin kamis dan tidak minum al-kohol. Si Inggrispun
menanyaiku bagaimana kata Al-quran tentang al-kohol. Selaku orang yang pernah
nyantri maka kucoba jelaskan sebaik mungkin hingga si Inggris mengiyakan
kata-kataku. Dia menambahkan keburukan al-kohol yang dia alami sendiri ketika pulang
dalam keadaan mabok nyasar masuk apartemen orang lain dan diusir. Mendengar
dialogueku dengan para bule ini akhirnya sang empunya penginapan meminta maaf
yang sebesar-besarnya kepadaku. Demikian pula si Inggris meminta maaf karena su’udzonnya.
Akupun memaafkannya.
Carl Barneco sedang berdialog dengan Santriwati
Carl Barneco sedang berdialog dengan Santriwati
Keesokan harinya kami ke Pondok
menemui siapa saja di kantor madrasah yang menggunakan gedung pertemuan alumni
ini ketika itu. Aku lupa siapa yang kami temui, yang kuingat dia mengatakan kebetulan
ada kelas putri jadwalnya belajar bahasa Inggris dan guru bahasa Inggrisnyapun
membolehkan. Bersama guru bahasa Inggris kami menuju kelas di samping rumah
KH.Atabik Ali. Aku mulai memberikan pengantar dengan bahasa Inggris lalu Arab
sebelum kesempatan kuberikan kepada Carl. Beberapa santri bertanya siapa aku
karena rasa penasarnnya. Kujelaskan aku Alumni MA Ali Maksum dan mereka masih
penasaran, tapi waktu sudah kuserahkan ke Carl. Dari kelas kami kembali ke
kantor untuk pamitan. Di jalan aku bertemu pak Taufik yang menanyakan di mana
aku sekarang. Kujelaskan kuliah di Jakarta dan sedang menunggu sidang skripsi.
Begitu siap sidang, aku tidak
ingin tanggung-tanggung pula. Aku ingin skripsiku disidang terbuka dengan
mengundang hadirin dan dosen termasuk dari luar kampus. Kebetulan cewek
Arab-Indo yang kutaksir menelponku dan dia mengatakan bahwa dari kampus dia
disarankan untuk ikut sidang skripsi terbuka sekalian bersamaku. Maka kami
berdua dipanggil untuk bertemu sang pemilik kampus untuk membriefing kami
tentang teknik presentasi yang akan kami lakukan. Setelah itu cewek yang lagi
sedang kudekati inipun meminta bantuanku untuk menerjemahkan presentasinya ke
Inggris. Demikian pula kampus membuat undangan untuk event ini dan alhamdulillah
setelah dinilai oleh empat penguji dengan satu orang dosen dari Belanda, nilai
kami A semuanya, kendatipun nilaiku sedikit di bawah cewek yang kutaksir hehe.
Selesai sidang aku resmi
menyandang gelar Sarjana Ekonomi sambil berdiri kami berdua di panggung,
hadirin satu persatu menyalami kami layaknya pasangan pengantin. Seorang
penguji menyalamiku dengan berkata “welcome to the real world” sambil
tertawa. Saat itu aku belum begitu paham makna sesungguhnya kalimat itu, aku
mulai mengerti ketika berfikir mulai sanksi untuk meneruskan menjadi aktivis
YEH-Indonesia karena merasakan adanya pergulatan untuk menyeimbangkan antara Idealisme
dan Kemandirian keuangan. Ditengah pergulatan fikiran inilah ketua Umum Masjid
Agung Sunda Kelapa yang kebetulan masih tetangga neneku pada suatu pagi setelah
sholat subuh sambil berbincang sejenak setelah memperkenalkaku kepada pak Tri
Soetrino sambil lewat di serambi masjid menawariku untuk ikut membantu
pembenahan manajemen Masjid yang terkenal di ibu kota negara ini, kebetulan aku
diminta membantu menantu pak Tri Soetrisno yang baru diangkat menjadi
Sektretaris Umum Masjid.
Ketika menandatangani kontrak aku
hanya berfikir, ya Allah jika nilai kontrak ini sepadan dengan kemampuanku,
alahamdulillah berarti seginilah rezkiku, namun jika tidak senilai, sisanya berupa
amal hamba sumbangkan kepada neneku yang telah memberiku makan dan tempat
berteduh selama ini dan kepada kedua orang tuaku serta kepada semua orang yang
telah membuatku menjadi seperti aku hari ini. Benar saja ketika Aceh dilanda
tsunami aku melamar ke UNHCR yang membutuhkan staff. Setelah tandatangan
kontrak dengan UNHCR dan mampir ke Masjid, seusai sholat seorang rekan senior
pensiunan Pertamina yang mengabdikan pengalamannya untuk membangun masjid
menanyaiku dengan penuh keyakinan bahwa aku pasti mendapatkan lebih besar dari
kontraku dengan Masjid. Ia benar, alhamdulillah persis angkanya sepuluh kali
lipat!.
Petualanganku ke Aceh dengan
UNHCR tidak lama. Hanya tiga bulan dari 27 January 2005 hingga akhir Maret. Ini
disebabkan karena UNHCR dicurigai Jakarta ikut membantu pengungsi GAM di Malaysia.
Sehingga UNHCR diminta keluar oleh Pemerintah RI. Karena pase emergency, pertama
aku ditugaskan sebagai logistic officer dengan sepuluh pekerja yang memastikan
pengiriman barang dengan dua helicopter tentara Swiss di Bandara Iskandar Muda.
Tentang heli kepunyaan Swiss ini aku diperitahu atasanku orang Austria yang
mengajariku bentuk-bentuk heli dan menjelaskan UN/PBB yang netral bisa
menggunakan pesawat militer Swiss karena tidak memiliki musuh. Demikian pulan sebagai penerima barang yang
datang dengan truk dari Medan.
Seminggu bertugas di Banda Aceh,
aku dipindah ke Meulaboh karena UNHCR membutuhkan orang di Meulaboh. Di sini
tugasku super sibuk, peranku di kantor base sebagai Administrasi,
Keuangan, operator radio VHF dan Codan, sesekali logistic, mengurusi tukang
masak, tukang kebun dan Satpam. Sering supir kantorku tergopoh-gopoh datang ke
kantor karena bosku seorang ibu-ibu Italy itu terkadang ketemu pejabat yang
tidak berbahasa Inggris, sehingga aku diculik ke lapangan untuk menyelesaikan
masalah bahasa ini. 28 Maret aku ditarik ke Banda Aceh karena operasi
diberhentikan oleh Pemerintah RI. Ketika pulang sholat Asar dari masjid dekat
kantor UNHCR di Banda Aceh, seorang petinggi DPRA menemuiku dan mengatakan
bahwa mereka tetap menginginkan UNHCR beroperasi karena kerjanya nyata. Maka
kuperkenalkan beliau kepada team leader kami. Akupun kembali ke Jakarta dan
Jambi untuk istirahat.
Tanggal 4 April 2005 aku
bergabung dengan UNDP dan ditugaskan di Meulaboh. Setahun lamanya aku bertugas
sebagai administrasi dan keuangan serta mengurusi kantor dibantu oleh seorang
tukang masak, dua orang tenaga kebersihan, dua orang driver dan enam
orang Satpam. Karena background-ku yang activist, sungguh tersiksa
rasanya duduk di belakang meja dan mengerjakan hal yang rutin. Maka kuputuskan
untuk melamar pindah ke program ketika ada kesempatan, boskupun mengizinkan.
Setelah setahun di Administrasi, akupun mulai bekerja untuk sisi program. Aku
mendapat tugas monitoring semua lembaga PBB, NGO lnternasional maupun lokal
serta Universitas yang mempunyai kontrak kerja dengan UNDP. Disamping itu juga
mengelola dan terkadang memimpin rapat koordinasi pemulihan mata-pencaharian
sebulan sekali. Kegiatan ini kujalankan hingga program pemulihan
mata-pencaharian UNDP berakhir di Pantai Barat – Meulaboh dan Calang Juli 2007.
Tanggal 1 Agustus 2007 aku
mendapatkan posisi baru di UNDP Banda Aceh. Nama programnya Disaster Risk
Reduction Aceh (DRR-A) yang masih sangat baru. Ketika itu kami hanya empat
orang di tim DRR-A ini. Tiga staff nasional dan satu orang penasihat senior
berkebangsaan Inggris. Tim kami sangat solid dan kompak. Sehingga kami mampu
menfinalisasi dokumen proyek dengan cepat. Sesuai dokumen proyek, setidaknya
dibutuhkan 12 personil untuk menjalankan DRR-A, sambil menunggu perekrutan
tambahan personel aku ditugaskan untuk mengurusi dua komponen dari empat
komponen; komponent 3 untuk membangun kapasitas Pusat Riset Bencana dan Tsunami
di bawah Universitas Syiahkuala (UNSYIAH) dan mendirikan program Paska Sarjana
Manajemen Bencana di UNSYIAH. Dan komponen 4 untuk penyadaran publik dan
pendidikan terkait bencana. September 2010 DRR-A memiliki team lengkap, akupun
mendapatkan posisi tetap pada komponen 3 hingga berakhir pada Mei 2012 yang
lalu.
Dua bulan aku istirahat kembali
ke Jakarta. Kendati selama di Aceh sering ke Jakarta dalam rangka tugas, kali
ini beda, aku pulang karena end of mission. Agustus 2012 aku mendapatkan posisi sebagai
asisten administrasi di kantor PBB untuk Koordinasi REDD+ di Indonesia di
Palangka Raya – Kalimantan Tengah hingga sekarang. REDD+ adalah singkatan dari Reducing
Emision from Deforestation and Forest Degradation sebagai langkah kongkrit
dari hasil pertemuan dunia tentang perubahan iklim di Bali tahun 2006.
Indonesia sendiri berkomit untuk mengurangi emisi sebanyak 26% jika bekerja
sendiri atau 41% dengan kerjasama internasional menjelang tahun 2020. Demikianlah
kisah singkat perjalananku menghilang selama delapan belas tahun hehe.
Sekarang kembali ke tausiah pak
Ihsan. Jika pak Hendry menyoroti rumah tangga dan hubungan pasangan. Pak
Asyhari menyoroti manfaat diri untuk orang lain dan lingkungan. Pak Ihsan
merangkum semua dengan menasehatkan agar jangan sampai harta, anak, istri dan
pekerjaan membuat kami lupa akan Allah. Akupun teringat ketika di Jepang hendak
sholat bersajadahkan koran di antara teman-teman Jepangku yang sibuk bekerja di
ruangan sangat terbatas. Aku sholat menghadap seorang teman senior Jepang yang
memutar kursinya di hadapanku sholat sambil berkata “Oo I am God” J . Dan selanjutnya nasehat
beliau tetap menjaga hubungan ruh dengan para guru dan almamater.
Ketika diminta perwakilan alumni.
Awalnya kufikir sudah ditentukan panitia. Karena kulihat sebelum acara dimulai antar panitia dan pak Ihsan sering
bisik-bisik, mungkin membicarakan hal ini. Rupanya sampai waktunya tidak ada
nama yang disebut. Maka akupun segera menangkap kesempatan ini untuk
menyampaikan beberapa hal yang kuanggap penting sebetulnya sudah kupersiapkan di
laptop, namun karena laptop di penginapan, maka aku bicarakan poin yang aku
ingat saja:
- Aku mengusulkan agar dari sini bergerak menuju pembentukan alumni dengan skala yang lebih besar atau lintas generasi. Belakangan ada dua usul yang senada dengan ini. Akupun paham ketika ada yang melengkapi ide ini dengan mengatakan agar alumni lintas generasi biar diserahkan kepada Yayasan. Angkatan 1995 tetap berjalan sendiri dulu. Maksud usulku untuk skala besar adalah untuk tujuan sinergi dalam hal ekonomi. Karena tidak terlalu besar gapnya di sini. Semua orang butuh rekan bisnis dan saling tolong dan semua alumni memiliki bidang yang bisa bersinergi dengan bidang lain. Untuk kangen-kangenan dan nge-jock tentu tidak nyambung jika dua generasi yang berbeda duduk dalam satu forum.
- Krapyak pencetak santri yang berwawasan rahmatan lil alamiin. Ketika terjadi peristiwa serangan teroris sering teman-temanku bertanya di mana pesantrenku?. Terutama untuk orang asing maka kugunakan kesempatan ini untuk menjelaskan dan berusaha menjadi duta Islam sebaik yang bisa kulakukan.
- Untuk meningkatkan peran aktif lulusan Krapyak di kancah internasional. Agar bahasa Arab dan Inggris digalakkan. Misalnya untuk menjadi staff di OKI atau Organisation for Islamic Cooperation (OIC) minimal Inggris dan Arab dan diharapkan juga bisa Prancis. Sedangkan bahasa resmi PBB ada tujuh bahasa di mana Arab salah satunya.
Berikut adalah poin yang sudah
aku persiapkan di laptop yang terlupakan saat bicara di depan hadirin:
1.
Proactively interfacing
current issues against Islamic tenet. Setelah saya refleksi ke belakang
rasanya santri akan lebih siap terjun ke masyarakat jika mereka senantiasa
diberi kesempatan untuk interface atau menghadap-hadapkan isu-isu
contemporer dengan ajaran Islam agar mereka lebih kritis selama menggali ilmu
di Krapyak dan lebih siap ketika keluar. Artinya mereka diberi kesempatan untuk
mencermati dan terekspose kepada isu-isu kekinian.
2.
Scholarship, banyak
sekali kesempatan beasiswa baik dari dalam negeri apalagi dari luar negeri. Ke mana
informasi ini bisa dishare?. Ada juga kemungkinan alumni mengadakan wadah
beasiswa untuk merekrut calon santri berbakat yang tidak mampu.
3.
Stakeholder’s map of
alumni. Pemetaan pemangku kepentingan alumni. Ini tentu memerlukan paling
tidak workshop sehari untuk memetakan agar menghasilkan document kerangka kerja
dan acuannya. Secara prinsip untuk urusan kerjasama business tentu tidak
terlalu terkendala jika lintas generasi alumni bertemu, tapi untuk urusan
kangen-kangenan, nostalgia, saling memberi semangat karena kedekatan satu sama
lain tentu ini hanya bisa berlaku satu angkatan. Untuk memperkuat jaringan
alumni sebaiknya ada website dan mulailah mengumpulkan data alumni sebanyak
mungkin sejak sak mbien-mbienne J.
4.
Frequency and type of
reunion. Ini sudah disepakati 2017 hehe. Typenya tergantung skala yang
hadir lintas generasi atau tidak. Yang jelas potensi sinergi lintas generasi
sangat besar dan bermanfaat.
5.
Indonesian economy
context, middle income country; menurut perangkingan PBB Indonesia sudah
bukan negara berkembang, tetapi sudah menjadi negara berpenghasilan menengah.
Hal ini dicirikan dengan ikutnya presiden kita dalam forum G20 atau kelompok 20
negara ekonomi terkemuka dunia. Demikian pula konsekwensinya adalah jika dulu
bantuan internasional PBB untuk Indonesia dikelola penuh oleh PBB, maka dengan
status barunya, sesuai dengan deklarasi Paris 2011, maka bantuan PBB harus
dikelola secara bersama dan dananyapun harus tercatat di Kementerian keuangan
RI. Dengan menjadi negara berpenghasilan menengah, berarti santri hari ini yang
akan menjadi aktor di masa depan harus dipersiapkan secara matang untuk
melangkah ke tahap berikutnya menjadi negara kaya atau ekonomi besar dunia yang
tentunya akan berdampak terhadap da’wah Islam. Hari ini pemerintah kita sedang
giat-giatnya mencetak pengusaha karena sebuah negara maju minimal 2%
penduduknya berwirausaha. Sementara Indonesia hari ini baru 0,8% penduduknya
yang berwirausaha. Tadinya saya tidak tahu persis angka persen untuk Indonesia,
saya hanya ingat nol koma sekian, untuk itu terima kasih Mas Imam selaku
pengusaha memberitahukan angka persis ini. Saya yakin kelebihan santri adalah tidak malu
menjalankan profesi apapun selagi halal. Dan santri saya yakin sangat
berpotensi untuk menjadi pengusaha karena biasanya untuk memulai usaha
dibutuhkan pengorbanan, termasuk menghilangkan urat malu hehe.
6.
Unique combination
of master degree with religious subject master degree. Melihat para
consultant asing di project yang pernah saya tangani mereka selalu mempunya
gelar master antara dua hingga tiga bidang. Hal ini patut kita contoh untuk penguasaan
utuh akan pengetahuan di dunia modern ini yang sangat semakin erat keterkaitan
satu disiplin ilmu dengan disiplin lainnya dalam penerapan di masyarakat.
7.
Khilafah, supremacy of
Allah lie in society or khilafah system?. Sebagaimana awal tulisan ini
sedikit menyinggung bagaimana system pengelolaan sebuah pemerintah untuk
mengelola dunia ini menjadi lebih baik. Saya merasa ketika dipondok dulu kurang
terekspose dengan sejarah Islam dan kekhilafahan. Belakangan saya lihat ada dua
kutub besar yang berhadap-hadapan di
dunia hari ini. System kapitalis yang diyakini menyusul tumbang setelah komunis
dan akan digantikan oleh Islam dengan system Khilafahnya. Phenomena banyaknya
orang masuk Islam di negara non-Muslim, bahkan organisasi Islam di USA berani
mulai mewacanakan pemberlakuan Syariat Islam. Demikian pula di Eropa yang sudah
mulai ketakutan karena lima puluh tahun mendatang akan berpenduduk mayoritas
Muslim karena rusaknya institusi rumah-tangga mereka yang mengabaikan
perkawinan. Sementara kaum imigran dari negara Muslim paling tidak memiliki dua
anak. Banyak pula mu’allaf di negara non-Muslim itu sedang mengalami apa yang
pernah di alami oleh para sahabat ketika pase Meka. Mereka harus sholat secara
diam-diam dan lain sebagainya. Dengan berbagai phenomena ini, bagaimana kita
selaku alumni Krapyak ikut menyikapi, memikirkan dan menyiapkan generasi
mendatang yang lebih siap dan relevan?.
8.
Non align to any
political parties, ini tentu di luar wewenang kita selaku alumni, namun
saya masih berfikir bahwa sebaiknya pondok tetap konsentrasi dalam menyiapkan
santri yang dibesarkan dengan tidak memihak dan politik praktis namun tetap
mengikuti politik. Kenapa demikian, karena saya berfikiran bahwa santri dan
pondok adalah institusi pendidikan. Begitu dia mencetak alumni yang mumpuni
ilmunya maka otomatis dia akan mampu menjadi tokoh sentral yang mengayomi.
9. ICT leterate atau melek tehnologi informasi dan
komunikasi. Jika ada sumber yang cukup kita bisa membuat website sendiri untuk
mengintenskan interaksi antar alumni baik itu untuk urusan bisnis dan
non-bisnis. Bahkan kenapa tidak jika yayasan bisa membuat acara-acara penting
live di internet, sehingga berpotensi mengumpulkan kembali alumni yang
menghilang. Selagi mereka menggunakan internet tentunya.
10.
Terakhir yang ingin kuklarifikasi
adalah soal sukses. Tiap orang punya definisi akan hal ini. Buatku belum sukses
jika belum masuk Surga dan bertemu dengan sang Pencipta.
Setelah aku bicara, seorang
alumni bernama Tobiin ikut bicara di depan. Tidak banyak yang bisa kucatat. Ada
dua point penting setidaknya menurutku;
1.
Jangan melihat dia sebagai
lulusan yang gagal. Sampai tulisan ini kutulis aku masih belum mengerti makna
tersurat dari kalimat yang ia ucapkan berkali-kali ini. Yang jelas teman-teman pada
ketawa-ketiwi ketika dia bicara. Bathinku hanya mencoba meraba bahwa ini pasti
artinya dalam dan philosofis J
2.
Agar berhati-hati terhadap
informasi tentang Islam di internet.
Terima kasih atas point ini
karena aku jadi teringat suatu hari mendapat email dari teman Arab yang bekerja
pada NGO Qatar semasa di Aceh menginformasikan sebuah link informasi Islam yang
dikelola oleh Zionis untuk mengaburkan Islam.
Pernah pula UNDP Indonesia
menjadi heboh membicarakanku hingga membuat panas beberapa aktivis NGO internasional
pro Israel ketika aku meneruskan sebuah pesan email ke ratusan email kontak
yang aku punya lengkap dengan gambar yang sangat menyentuh. Ringkasnya, email
tersebut menginformasikan beberapa kekejaman Israel; yang kuingat sedikit di
antaranya menembak mati wartawan Ingris yang mencoba menghalangi tentara Zionis
menembak rakyat Palestina. Ada juta poto seorang wartawati Amerika yang gugur
digilas bulldozer Israel hendak menghancurkan rumah anak yatim Palestina. Di
akhir kata email itu mengatakan bahwa untuk inilah uang pajak yang kamu bayar
dipergunakan. Tentu pesan ini untuk rakyat Amerika Serikat.
Cukup banyak poto dan
panjang emailnya. Setelah itu aku dimarahi sama atasanku dan disuruh menghadap
big Boss yang berkebangsaan Australia. Kantorku masih di gedung yang berbeda
dengan kantor pusat UNDP ketika baru relokasi ke kantor Gubernur Aceh waktu
itu. Ketika menaiki tangga menuju sang big Boss, aku membaca ayat Kursi
sebanyak yang kubisa J
hingga menuju lantai tiga. Begitu di depan ruangan si Boss, dia langsung
mengajaku ke ruang meeting dan meninggalkan dua orang tamu bulenya disuruh
menunggu. Ternyata tidak seperti yang kuduga, memang sang Boss ini sangat
terkenal baiknya. Waktu acara Meugang, tradisi orang Aceh menyambut
Ramadhan dan Lebaran dengan potong sapi atau kerbau yang diberikan kepada orang
yang tidak mampu, beliau selalu menyumbang satu sapi.
Begitu dipersilahkan
duduk, dia tidak langsung menyasarku. Malah ngalor ngidul ngomongi proyek
yang sedang kukerjakan dan konsultanku yang baru datang. Maka langsung saja
kuingatkan bahwa pertemuan ini untuk membicarakan emailku. Diapun dengan sangat
kebapakan memintaku tetap tenang dan bekerja seperti biasa. Jangan sampai
perasaan bersalahku membuat kinerjaku menurun. Ditambahkan pula dia menghormati
hak politikku dan PBB mengakui itu. Ia sepakat bahwa kesalahanku adalah
meneruskan email itu ke semua orang menggunakan email resmiku, email account
resmi UNDP. Ini dapat menciderai PBB yang seharusnya netral. Iapun mengingatkan
untuk hati-hati menggunakan email resmi ke depannya dan pertemuan tersebut
tidak lebih dari lima menit J.
Sekitar dua tahun setelah
pertemuan dengan big Boss tersebtu, Oktober 2011, UNESCO mengakui keberadaan
negara Palestina. Disamping berkat rahmat Allah, aku fikir tentu juga ridhoNya
atas perjuangan gigih para aktivist kemanuasian untuk Palestina termasuk adik
ipar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang masuk Islam
24 Oktober 2010.
Kesempatan bicara
selanjutnya diberikan kepada ibu Ida yang seharusnya pada pembukaan. Dari isi
pidato beliau ada beberapa point yang bisa kucatat:
1.
Begitu dekatnya
kekeluargaan ini hingga beliau menganggap cucunya setiap anak dari para alumni.
2.
Menginformasikan bahwa
Yayasan sedang mengakwisisi sebidang tanah di belakang madrasah yang baru.
Tentu ini kesempatan buat alumni untuk amal jariah J
3.
Mendo’akan satu sama lain
adalah tradisi pondok Krapyak
4.
Untuk senantiasa menjalin
tali silaturrahim, beliau menganjurkan agar alumni mendaptarkan anaknya kembali
ke Krapyak.
5.
Usulan meningkatkan skala
alumni menjadi lintas generasi, tidak hanya angkatan 1995.
Setelah ibu Ida bicara,
pak Jum diminta juga untuk menyampaikan sepatah kata. Berikut yang bisa
kusimpulkan:
1.
Pertemuan alumni ini agar
ditingkatkan untuk mendorong sinergi bisnis antar alumni
2.
Menginformasikan
peningkatan kualitas Bahasa Inggris santri sekarang. Ini terbukti dengan adanya
delegasi santri untuk pertukaran pelajar yang ke Jepang, Belanda, dan USA. (Bathinku
langsung berdehem, hmm…akhirnya pondoku kebagian juga. Inikan program dunia
dalam rangka agar berbagai bangsa dan agama yang mendiami bumi ini lebih saling
kenal satu sama lain. Inilah apa yang mereka sebut people to people contact.)
Pak Muslih yang tadinya
hanya ingin jadi pendengar dan malu-malu diminta bicara akhirnya tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan yang mulia ini. Berikut point yang dapat kutangakap:
1.
Beliau memantapkan diri
dengan mengakui sebagai Abdi Dalem
2.
Berkah itu nyata. Terbukti
hanya dengan Abdi Dalem semua anak beliau bisa sekolah dan jika dihitung dengan
penghasilan beliau tidak masuk akal.